Melansir laman Newsweek, perusahaan Jerman mulai melakukan penambangan di Nauru pada tahun 1900-an. Penambangan itu bertujuan untuk memperoleh fosfat yang sangat berguna bagi lini pertanian. Ketika masa Perang Dunia II, Jepang berhasil menduduki Nauru dan melanjutkan penambangan. Pada tahun 1943, Amerika Serikat (AS) meledakkan landasan udara Jeoang di Nauru dan menghalau masuknya pasokan makanan ke negara kecil itu. Usai Perang Dunia II tamat, Nauru diambil alih Australia dan penambangan fosfatnya dilanjutkan negara tersebut.
3. Tuvalu
Negara selanjutnya yang juga terancam tenggelam adalah Tuvalu. Dulunya, Tuvalu dikenal dengan Kepulauan Ellice, yang berada di tengah-tengah antara Hawaii dan Australia. Merupakan negara kepulauan yang kecil, jarak antara pantai dengan air laut Tuvalu sangatlah dekat. Apabila air laut naik dan ombak besar terjadi, tentunya akan menenggelamkan negara ini. Sebagian besar masyarakat Tuvalu merasa takut apabila air laut sedang mengalami pasang. Diketahui, titik tertinggi Tuvalu hanya 4,5 meter di atas permukaan laut. Hal tersebut berarti negara ini bisa saja hilang akibat tenggelam.
4. Maladewa
Maladewa, sebuah negara kepulauan di barat daya India, terkenal karena menjadi langganan destinasi wisata turis asing, terutama mereka yang ingin berbulan madu. Sayangnya, negara ini terancam tenggelam akibat dampak perubahan iklim. Pemerintah Maladewa dikabarkan kesulitan mendapat dana untuk membangun infrastruktur utama, seperti dinding laut. Dinding laut ini bertujuan agar pulau-pulau di negara tersebut bisa terlindungi dari naiknya permukaan air laut akibat pemanasan global. Setidaknya ada 80% wilayah Maladewa yang tingginya kurang dari 1 meter di atas permukaan air laut. Hal itu menjadikan 530 ribu penduduknya rentan mengalami gelombang badai, cuaca buruk, dan air pasang.
(Susi Susanti)