Agustina menceritakan awalnya Nadira hanya batuk dan flu. Kondisinya memburuk setelah diminumkan obat sirup parasetamol dari sebuah Puskesmas di bilangan Jakarta Selatan.
“Setiap empat jam aku kasih [obat], karena panasnya nggak turun-turun. Sempat sembuh, tapi demam lagi. Akhirnya tidak pipis,” katanya.
Urin yang tidak keluar juga disertai pembengkakan pada tubuh Nadira. Setelah masuk ke beberapa rumah sakit, terakhir Nadira dilarikan ke RS Fatmawati.
Diagonsis laboratorium menunjukkan kreatinin dan ureum Nadira pada angka yang melampaui ambang batas. Artinya ginjal Nadira tidak berfungsi.
“Dan akhirnya meninggal dengan begitu cepat. Dengan sakit yang begitu mengerikan.”
"Kalau memang benar-benar sudah terbukti ini [ada] kelalaian dari pihak farmasi, tentunya kami semua para orang tua korban akan menindaklanjuti kasus ini, untuk meminta pertanggung jawaban atas kasus yang menimpa anak-anak kami,“ tambah Agustina.
Cyrene Melody Mamonto, 2 tahun 7 bulan, juga mengalami gagal ginjal dan tak bertahan setelah serangkaian perawatan di rumah sakit. Ia sempat mengkonsumsi obat parasetamol yang dibeli di pasaran, termasuk di rumah sakit.
"Dua minggu sebelum dia meninggal itu. Kami ke gereja, kami ke … maksudnya anaknya aktif. Jalan ke sana kemari, main… Kayak diracuni gitu dengan tiba-tiba. Cuma racun yang kuat, yang bisa buat dia kayak gitu [meninggal],” kata Curie Mamonto Loho, ibu dari Melody.
Untuk mengambil langkah selanjutnya, Curie masih menunggu hasil penyelidikan yang saat ini dilakukan BPOM, Kemenkes, Ikatan Dokter Anak Indonesia, ahli epidemiolog, farmakolog dan laboratorium kepolisian.
"Harus menunggu penelitiannya. Hasilnya seperti apa,” katanya.
Siti Suhardiyati memaksakan diri membereskan mainan Umar Abu Bakar, anak bungsunya yang meninggal 24 September 2022 lalu. Air matanya mengalir deras dipicu rasa kehilangan.