Maka sang patih pun mampu mengambil kebijakan yang sangat baik. Hal inilah yang membuat salut Sang Adipati Blitar sehingga sang adipate memberinya hadiah sebidang tanah yang sekarang berada di Jalan Melati Kota Blitar.
Dari pemberian tanah tersebut Djojodigdo akhirnya membangun rumah besar beserta keluarganya yang diberi nama Pesanggrahan Djojodigdo. Rumah yang dibangun oleh Djojodigdo ini hingga saat ini masih berdiri kokoh.
Sebagai manusia biasa meskipun mempunyai Aji Pancasona, Djojodigdo akhirnya wafat pada tahun 1905, di usia 100 tahun lebih. Dengan Ajian Pancasona ini seseorang tersebut akan bisa hidup kekal abadi hingga akhir kiamat nanti.
Seseorang yang mempunyai Ajian Pancasona ini dikatakan hanya bisa wafat apabila tubuhnya dipisah menyeberangi sungai dan digantung agar tidak mnyentuh tanah. Jika jasadnya menyentuh tanah maka bagian-bagian tersebut akan bersatu dan orang yang mempunyai ajian ini bisa hidup kembali.
“Eyang Djojodigdo dikabarkan pernah wafat sehari tiga kali, tapi setiap akan dikuburkan pada saat jasadnya menyentuh tanah maka akan hidup lagi dan langsung bangkit,” ujar Lasiman, usia 70 tahun, juru kunci makam, beberapa waktu lalu.
“Beliau meninggal karena Ilmu Pancasona yang diambil dari sang guru yang memberikan ilmu tersebut. Guru beliau bernama Kiai Imam Sujono atau Eyang Jugo yang meninggal di usia 84 tahun karena sudah tua,” lanjut Lasiman.
Supaya tidak bisa hidup lagi maka ketika Djojodigdo meninggal jasadnya digantung yang sebelumnya dimasukkan di dalam peti besi dan dikasih tiang penyangga sebanyak 4 buah yang terbuat dari besi sehingga masyarakat Blitar menyebutnya dengan makam gantung. Makam tersebut terlatak di Jalan Melati Blitar, Jawa Timur, sekitar satu kilometer dari Makam Presiden Soekarno. Wallahu A'lam Bishawab.
(Fahmi Firdaus )