JAKARTA – Seorang prajurit TNI terkadang harus terjun jauh di dalam wilayah musuh, terutama jika melakukan misi intelijen. Hal itulah yang dilakukan Letjen (purn) Sutiyoso, ahli intelijen Kopassus, saat ditugaskan menangkap petinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Dilansir dari buku biografi “Sutiyoso The Field General, Totalitas Prajurit Para Komando”, dikisahkan saat itu Sutiyoso mendapat informasi mengenai keberadaan Menteri Keuangan GAM bernama Tengku Muhammad Usman Lampoh Awe atau biasa disebut Usman. Menindaklanjuti informasi itu, mantan Pangdam Jaya itu kemudian menelusuri jejak Usman hingga bertemu seorang pengusaha di Lhokseumawe, yang membeberkan bahwa dirinya ditugaskan mengumpulkan dana untuk biaya Usman pergi ke Badan Keamanan PBB di New York, Amerika Serikat (AS).
Sutiyoso kemudian pergi ke Polonia, Medan untuk menangkap Usman yang berada di rumah kakaknya. Untuk melakukan penangkapan itu, Sutiyoso menyamar dengan meyakinkan pengusaha yang ditemuinya di Lhokseumawe untuk menjadikannya sopir baru.
Dengan menggunakan mobil Toyota Hardtop, Sutiyoso, pengusaha itu dan sekretarisnya bergerak ke rumah kakak Usman dengan dibuntuti tiga anggotanya, Kapten Lintang Waluyo, Darno, dan seorang polisi penerjemah, yang menggunakan mobil sedan.
Setibanya di rumah yang dituju, pengusaha dan sekretarisnya berhasil meyakinkan Usman untuk turut masuk ke dalam mobil, dengan dalih mengambil uang yang dibutuhkan untuk pergi ke AS di hotel. Usman yang sempat curiga melihat Sutiyoso berhasil diyakinkan bahwa prajurit Kopassus itu adalah sopir baru si pengusaha yang baru.
Sesuai skenario, setelah mobil melaju dengan membawa Usman, Sutiyoso memberi kode kepada Kapten Lintang dan dua anak buahnya untuk menghentikan kendaraan yang dia kemudikan. Setlah mobil yang dikemudikan Sutiyoso berhenti, ketiga anak buahnya segera bergerak masuk dan memborgol Usman.
Baca Berita Selengkapnya: Bertaruh Nyawa, Jenderal Kopassus Ahli Intelijen Ini Menyamar Jadi Sopir Tangkap Pentolan GAM
(Rahman Asmardika)