JAKARTA - Seorang penghulu berhasil mengubah Sultan Agung sang penguasa Kerajaan Mataram yang dikenal pemarah dan tegas menjadi lebih lunak, pemaaf, dan sabar.
Kisah itu berawal saat Sultan Agung memberikan kemuliaan dan kekayaan ke sang penghulu yang bernama Ahmad. Sultan Agung cukup akrab dengan penghulu ini sebagaimana digambarkan pada Babad Sultan Agung.
Namun, suatu saat kiai penghulu Ahmad ini tak mau datang lagi ke Sultan Agung.
Soedjipto Abimanyu pada "Babad Tanah Jawi", menggambarkan bagaimana undangan dari sang penguasa Mataram ini tak pernah diindahkan sang penghulu. Beberapa kali selamatan kerajaan yang diadakan langsung oleh Sultan Agung pun ia tak hadir.
Sang penghulu ini hanya mengirimkan wakilnya bernama Mas Khatib Anom dengan alasan sakit. Sultan Agung pun marah dengan ulah penghulu ini. Padahal saat itu merupakan hari ulang tahunnya yang akan dirayakan secara besar-besaran.
Baca juga: Mengulik Sejarah Penamaan Paseban, Tempat Audiensi Raja
Menurut keterangan para khatib, sudah biasa Kiai Penghulu hanya mengirimkan wakilnya. Mendengar keterangan itu, Sultan Agung bertambah marah. Ia lalu mengutus seorang bintara dan dua bupati untuk menjemput paksa Kiai Penghulu Ahmad.
Baca juga: Ketika Sultan Agung Mataram Melempar Batu dari Makkah untuk Lokasi Pemakamannya
Sultan Agung bahkan sampai empat kali menyuruh Kiai Penghulu untuk mendoakan selamatan. Namun, Kiai Penghulu tetap menolak dan menawarkan Mas Khatib mewakilinya. Sultan Agung menjadi marah besar.
Ia kemudian bertanya tentang alasan Kiai Penghulu enggan mendoakan selamatan. "Jika hamba mendoakan selamatan Kanjeng Sultan," jawab Kiai Penghulu, "semua hidangan tidak akan dapat dimakan oleh para tamu, dan para abdi akan mendapat malu," katanya.
Dengan suara keras, Sultan Agung berkata lagi, "Saya ingin tahu buktinya!" Kiai Penghulu kemudian mengangkat sembah, mulai berdoa.
Baru dua kali terdengar ucapan amin, semua hidangan berubah bentuknya. Sesudah ucapan amin yang ketiga, semua hidangan kembali menjadi mentah.
Alhasil, Sultan Agung menjadi heran, karena sudah mengetahui sendiri bukti dan akibatnya mengapa kiai penghulu selalu menolak mendoakan setiap selamatan. Sultan Agung menjadi dan senang hatinya.
Kiai Penghulu Ahmad kemudian mendapat hadiah berupa serban, dodot, dan cundrik. Dari sanalah Babad Sultan Agung, sang penguasa Mataram ini memiliki sifat lain dibalik tegasnya.
Sosoknya ternyata terdapat sifat lemah lembut, pemaaf, dan murah hati. Hal ini pulalah yang membuat Sultan Agung, menjadi raja yang mengantarkan Kerajaan Mataram ke masa kejayaan.
(Fakhrizal Fakhri )