Dengan suara keras, Sultan Agung berkata lagi, "Saya ingin tahu buktinya!" Kiai Penghulu kemudian mengangkat sembah, mulai berdoa.
Baru dua kali terdengar ucapan amin, semua hidangan berubah bentuknya. Sesudah ucapan amin yang ketiga, semua hidangan kembali menjadi mentah.
Alhasil, Sultan Agung menjadi heran, karena sudah mengetahui sendiri bukti dan akibatnya mengapa kiai penghulu selalu menolak mendoakan setiap selamatan. Sultan Agung menjadi dan senang hatinya.
Kiai Penghulu Ahmad kemudian mendapat hadiah berupa serban, dodot, dan cundrik. Dari sanalah Babad Sultan Agung, sang penguasa Mataram ini memiliki sifat lain dibalik tegasnya.
Sosoknya ternyata terdapat sifat lemah lembut, pemaaf, dan murah hati. Hal ini pulalah yang membuat Sultan Agung, menjadi raja yang mengantarkan Kerajaan Mataram ke masa kejayaan.
(Fakhrizal Fakhri )