JAKARTA - Korps Pasukan Khusus (Kopassus) dibentuk atas gagasan Brigjen Ignatius Slamet Riyadi yang kemudian direalisasikan oleh Kolonel A. E. Kawilarang. Orang pertama yang bertanggung jawab untuk melatih Kopassus adalah Mochammad Idjon Djanbi.
Ia seorang berdarah Belanda yang merupakan mantan anggota pasukan komando Belanda yang bernama Korps Speciale Troepen (KST). Pada saat itu, gagasan dari Slamet Riyadi adalah ingin membentuk pasukan komando yang efektif dan dapat beroperasi sekalipun berada dibawah tekanan yang besar.
Awalnya, Idjon Djanbi diminta untuk melatih pasukan komando di pendidikan Corps Intelligent Course (CIC) II pada tahun 1952. Idjon Djanbi, yang pada saat itu telah hengkang dari dunia militer, dibujuk oleh Letda Aloysius Sugiyanto. Ia pun akhirnya bersedia untuk melatih pasukan tersebut.
Nama Idjon Djanbi kembali muncul pada saat Kolonel A. E. Kawilarang yang pada saat itu mengutarakan kembali niatnya untuk membentuk pasukan khusus yang berkualifikasi komando. Ia mengutus Letda Aloysius lagi untuk meminta Idjon Djanbi melatih pasukan yang akan ia bentuk tersebut.
Terhitung 1 April 1952 atas keputusan Menteri Pertahanan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Idjon Djanbi diangkat menjadi Mayor Infanteri TNI AD dengan NRP 17665 dan bertugas untuk melatih kader perwira dan bintara calon pasukan khusus di Batujajar, Bandung.
Pada 16 April 1952, Kesatuan Komando Tentara Teritorium-III/Siliwangi resmi dibentuk di bawah komando Mayor Infanteri Mochammad Idjon Djanbi.
Pada 14 Januari 1953, pasukan ini berganti nama menjadi Kesatuan Komando Angkatan Darat (KKAD). Seiring perkembangannya, kemudian berganti nama lagi menjadi yang kita kenal sekarang, yaitu Korps Pasukan Khusus (Kopassus).
(Nanda Aria)