KEMENANGAN perang di Blambangan Kerajaan Mataram di bawah kekuasaan Sultan Amangkurat I dibayar mahal. Pasalnya, pasca kemenangan itu panglima perangnya Tumenggung Wiraguna jatuh sakit.
Tumenggung Wiraguna memang ditunjuk sebagai pemimpin pasukan Mataram ketika Pangeran Purbaya menolaknya. Kala itu pertempuran melawan Blambangan dan orang-orang Bali berhasil dimenangkan Kerajaan Mataram.
Tetapi konon momen penting Mataram menang dengan berhasil memenggal Panji Arungan tidak diikuti oleh Tumenggung Wiraguna. H.J. De Graaf pada bukunya "Disintegrasi Mataram : Dibawah Mangkurat I" mengisahkan bagaimana Tumenggung Wiraguna memang telah menyiapkan skema meninggal dunia di pertempuran itu, kendati akhirnya dikisahkan masih hidup tapi kondisinya sakit.
Pasca perang itu, pemimpin bawahan kemudian memutuskan untuk kembali, para tawanan perang berjalan di depan, diikuti tentara. Sementara Tumenggung Wiraguna telah memberitahukan kepada keluarganya bahwa jika ia tewas, agar jenazahnya tidak dibawa ke Mataram, tetapi dikuburkan di tempat.
Setibanya di Kediri ia minum obat dan meninggal, konon kematian itu ditangisi oleh para abdinya. Para abdi atau keluarganya sebagaimana pada Serat Kandha, tetap membawa jenazahnya ke Mataram, sekalipun dengan perasaan enggan karena teringat akan pesannya.
Di saat yang sama Tumenggung Danupaya pun jatuh sakit pasca perang itu. Para keluarga mengirimkan utusan ke Mataram untuk menyampaikan berita. Tetapi Sunan marah karena Tawang Alun yang melarikan diri itu tidak dikejar.