Diperintahkannya kepala bayangkara supaya segera berangkat menyongsong iring - iringan sedang dalam perjalanan pulang, dan memakamkan jenazah Tumenggung Wiraguna di tempat mereka menemuinya. Kemudian kepala bayangkaranya sekaligus diperintahkan membunuh seluruh keluarga tumenggung yang terdiri dari dua belas jiwa.
Informasi yang diterima akan dibunuh membuat Tumenggung Danupaya memilih mengakhiri hidupnya. Ia meminum racun meninggal dan dikuburkan. Tumenggung Asmaradana, yang mengambil alih pimpinan, juga dibunuh setelah menyampaikan laporan kepada Sultan Amangkurat I.
Pada sumber lain, melaporkan hal ini lebih jelas saat Tumenggung Asmaradana berhenti di Taji. Dari sini dikirimkannya berita ke Istana, tetapi ia tidak segera dipanggil menghadap. Begitu lama ia harus menunggu, sehingga para tawanan yang dibawa serta harus mengemis-ngemis. Akhirnya ia dipanggil juga, tetapi segera pula dibunuh.
(Awaludin)