JAKARTA – Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid atau biasa disapa Gus Dur dikenal sebagai sosok yang kerap melontarkan humor. Humor ini bisa membuat orang tertawwa terbahak-bahak sekaligus meredakan ketegangan politik pada kala itu.
Salah satunya humor yang diambil dari situs NU Online dan buku Kumpulan Humor Gus Dur.
Alkisah, Gus Dur memiliki cerita humor tentang Uni Soviet. Seperti diketahui, Uni Soviet, sebelum pecah, dikenal sebagai “Tirai besi”, negara yang sangat tertutup. Pengontrolan terhadap individu luar biasa ketat. Semua orang harus tunduk dan patuh saja terhadap apapun yang ditentukan negara. Jangankan berontak, menyanyikan lagu Barat saja orang akan diinterogasi berhari-hari oleh polisi rahasia.
Dalam sebuah perjalanan, bertemulah dua orang yang belum saling kenal dalam satu kereta. Satu orang erasal dari Polandia dan seorang lagi dari Moskow. Keduanya akhirnya saling berkenalan dan terlibat obrolan yang cukup serius.
Si orang Polandia bertanya kepada orang dari Moskow itu.
“Hadiah apakah yang akan anda peroleh kalau anda memamerkan lambang serikat buruh di Moskow?,” tanyanya.
“Tidak tahu, apa kira-kira hadiah yang akan kudapat,” jawab kawan yang dari Moskow itu.
Sang penanya kemudian menjawab sendiri teka-tekinya itu.
”Anda akan memperoleh dua buah gelang dan satu rantai,” ujarnya.
“Gelang emas atau perak?” tanya kawan asal Moskow ini penasaran.
“Borgol!” jawab si orang Polandia kalem.
Kisah lain juga diceritakan saat Gus Dur diskusi di kantor Yayasan Paramadina, Pondok Indah. Kala itu, Gus Dur tampil bersama pakar filsafat yang mendalami masalah Konghucu. Nama pakar itu Dr. Lasio, mengingatkan orang pada klub sepak bola ternama Italia, Lazio.
Sang pakar bicara lebih dulu dan menguraikan pandangan-pandangannya di depan ratusan peserta yang meluber sampai ke luar ruang yang cukup sempit.
Giliran Gus Dur untuk berbicara pun dimulai. Dia memulai dengan komentar tentang pentingnya topik diskusi tersebut.
”Kok saya yang harus tampil melawan Lasio. Lha mestinya ‘kan lebih tepat kalau dia tanding melawan AC Milan,” ungkap Gus Dur.
Mendengar guyonan itu, sang pakar pun hanya tersenyum.
(Susi Susanti)