TANGERANG - Wilayah Tangerang mulai memasuki puncak musim kemarau yang berlangsung sepanjang Agustus hingga September 2023. Musim kemarau kali ini diakui oleh BMKG lebih kering dibandingkan tiga tahun sebelumnya.
Musim kemarau 2023 menjadi lebih kering dan curah hujan sangat rendah karena adanya fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) yang terjadi di Samudra.
BACA JUGA:
Menanggapi situasi ini, BPBD Kota Tangerang telah menyiagakan Posko Siaga dan menyiagakan seluruh sarana prasarana terkait kebakaran dan mitigasi lainnya.
Pasalnya, musim kemarau tahun ini diindikasi meningkatkan risiko kebakaran. Masyarakat diimbau untuk tidak membakar sampah atau ranting pohon di lahan kosong yang berpotensi mengakibatkan kebakaran. Serta menjaga konsleting listrik di masing-masing rumah atau pun tempat usaha.
BACA JUGA:
"OPD terkait juga diimbau memaksimalkan daya tampung air seperti danau, sungai maupun kali dan juga berkoordinasi dengan PDAM terkait suplai air bersih. BPBD pun terus berkoordinasi dengan BMKG terkait perkembangan situasi dan kondisi, untuk terus menyiapkan mitigasi terbaik untuk Kota Tangerang," jelas Kepala BPBD Kota Tangerang, Maryono Hasan pada Kamis (10/8/2023).
Sementara itu, Pejabat Madya Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG), BMKG Stasiun Geofisika Klas 1 Tangerang, Maria Evi Trianasari mengungkapkan indeks El Nino pada Juli lalu mencapai level moderate. Sementara IOD sudah memasuki level index yang positif.
Fenomena El Nino dan IOD Positif saling menguatkan, sehingga membuat musim kemarau 2023 menjadi lebih kering dan curah hujan pada kategori rendah hingga sangat rendah.
“Puncak kemarau kering 2023 diprediksi akan terjadi pada Agustus hingga awal September dengan kondisi akan jauh lebih kering dibandingkan tahun 2020, 2021 dan 2022. Fenomena ini pun berpotensi mengganggu ketahanan pangan nasional, karena adanya ancaman gagal panen pada lahan pertanian tadah hujan,” ungkap Maria.