JAKARTA - Kampung Laweyan Solo, Jawa Tengah, pernah menjadi kampung para saudagar batik di masa lalu. Rumah-rumah di kampung ini memiliki sentuhan arsitektur Eropa yang megah dan kokoh.
Selain rumah-rumah kuno milik para saudagar, banyak situs bersejarah yang ada di kampung Laweyan, seperti Museum Samanhudi. Samanhudi adalah salah satu tokoh pergerakan nasional. Tidak hanya menikmati sejarah dan kecantikan bangunannya saja.
BACA JUGA:
Laweyan tidak hanya tempat belanja batik, tetapi sudah menjadi satu paket tempat wisata budaya di Solo. Maka di sana banyak wisatawan lokal dan mancanegara yang sedang asyik memilih batik atau sedang belajar membuat batik dari sang ahli.
Pada masa penjajahan, Laweyan selalu dikontrol ketat oleh pemerintah kolonial Belanda, apalagi sejak Kyai Samanhudi membentuk organisasi perlawanan bernama Sarekat Dagang Islam. Proses pemasaran batik pun tak leluasa dilakukan.
BACA JUGA:
"Pada masa pergerakan, batik menjadi sumber ekonomi yang juga menopang gerakan perlawanan. Soekarno, Hatta dan tokoh-tokoh politik nasional kerap berkunjung ke kampung itu, untuk rapat gelap dan melakukan konsolidasi," kata warga Laweyan, Fadoli.