Upacara itu dipimpin ‘Soncho’ (Camat) Rengasdengklok, Soejono, dengan diawali usulan perwira PETA, dr. Soetjipto dan Singgih.
“Pernyataan itu reaksi spontan dan euforia pemuda yang dimotori Sukarni, serta diramaikan semangat tentara PETA di Rengasdengklok,” tambahnya.Mereka ingin merebut dan menyatakan kemerdekaan ketika kondisi Indonesia tengah vakum (usai Jepang menyerah pada sekutu),” tambah aktivis sejarah Historia van Bandoeng tersebut.
“Tapi Soekarno dan Mohammad Hatta keukeuh pegang janji Jepang ketika di Da Lat (Vietnam Selatan usai bertemu Marsekal Terauchi), maupun di sidang Chuo Sangi In,” pungkasnya.
(Awaludin)