Ini terbukti dari pupuh 95/1 baris 1, di mana ia berkata: "Nasib badan dihina oleh bangsawan, hidup canggung di dusun", yang dimaksud dengan winada ialah pemeluk agama Budha. Jumlahnya banyak, karena pupuh 98/1 baris 4 memuat kata para winada cinala ri dalìm, orang-orang yang dicacat dan dicela di istana. Timbulnya celaan karena perselisihan.
Justru karena jelas sekali pada baris tersebut dengan adanya kata ri dalen (di istana), maka perselisihan itu terjadi antara pemeluk agama Budha dan agama Siwa. Maklumlah, agama Siwa adalah agama negara pada zaman pemerintahan Hayam Wuruk. Prabu Hayam Wuruk adalah pemeluk agama Siwa.
Begitulah, Prapanca sebagai pembesar urusan agama Budha di kerajaan Majapahit menjadi korban perselisihan agama Budha dan Siwa. Dari sudut ini kita sekarang dapat memahami mengapa Prapanca meninggalkan istana, hidup di dusun, kemudian bertapa di lereng gunung di desa Kamalasana.
(Awaludin)