CIREBON - Wilayah Kota Cirebon, Jawa Barat tak luput dari Partai Komunis Indonesia (PKI). Di daerah tersebut, PKI memiliki metode pergerakan yang sangat sistematik. Bahkan, mereka melakukan pendekatan secara kultural kepada masyarakat Cirebon.
Demikian dikatakan Pemerhati sejarah sekaligus Ketua Dewan Kesenian Cirebon Kota (Dekaciko), Akbarudin Sucipto beberapa waktu silam.
Geliat PKI di Cirebun terjadi sebelum peristiwa Gerakan 30 September (G30S) PKI. Namun sirna karena terjadinya pemberontakan tersebut. Mulanya, kata Akbar, PKI di Cirebon melakukan pendekatan kultural karena mereka harus bersaing dengan partai partai seperti Partai Nasional Indonesia (PNI), Masyumi, dan Nahdatul Ulama.
Pendekatan secara kultural, harus dilakukan karena sejak dulu Kota Cirebon terkenal sebagai daerah dengan nilai religiusitas yang tinggi. Mengingat, di Kota Cirebon terdapat nama-nama besar tokoh penyebar agama Islam, salah satunya Sunan Gunung Jati.
Sistem pergerakan PKI di Cirebon berbeda dengan pola pergerakan PKI di tempat lain. "Saya melihat PKI di Cirebon juga melakukan pendekatan kultural. Artinya mereka berani membaur dengan masyarakat," kata Akbar.
Persaingan politik antar partai di Kota Cirebon ketika itu cukup sengit. Terutama antara PKI dan Masyumi. Meski, persaingan tersebut tidak sampai menimbulkan keributan.
"Saat Kota Cirebon menjadi kota yang menyelenggarakan pemilu, walaupun pada saat itu jumlah kontestan banyak, di mana di situ ada PKI, tetapi relatif tidak ada keributan," ujarnya.