JAKARTA - Soeharto, Presiden Ke-2 Republik Indonesia menolak tinggal di Istana Merdeka. Presiden yang menjabat sebagai 32 tahun itu memilih tinggal di rumah pribadinya, Jalan Cendana, Menteng, Jakarta Pusat.
Dikutip dari buku “Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya” yang ditulis G. Dwipayana dan Ramadhan KH, diterbitkan PT Citra Kharisma Bunda Jakarta, tahun 1982, bukan tanpa alasan pilihan itu diambil Soeharto. Namun, dirinya melakukan hal tersebut untuk kepentingan dan kebaikan keluarga.
"Saya memilih tinggal di Jalan Cendana No. 8, di daerah Menteng dan tidak pindah ke Istana Merdeka. Saya mengambil keputusan ini bukan karena tidak mau, melainkan demi kepentingan dan kebaikan keluarga," demikian penuturan Soeharto dikutip dari buku tersebut.
Soeharto tidak ingin anak-anaknya terpisah dari masyarakat. Kendati, dirinya menyadari dengan kedudukannya sebagai presiden tentu kebebasannya akan terbatas.
Namun, tidak bagi anak-anaknya. Dengan tinggal di rumah pribadi tentunya akan memiliki pergaulan yang lebih bebas, ketimbang harus tinggal di Istana.
"Dalam pada itu saya sadar, sesuai dengan kedudukan saya, meski saya tinggal di rumah ini kebebasan kami tetap terbatas. Tetapi, pergaulan anakanak saya tentu masih lebih bebas daripada kalau mereka tinggal di Istana," katanya.
Menurut Soeharto, Istana Presiden bukan untuk Presiden saja. Namun, gedung tersebut merupakan Istana Negara, Istana Kepala Negara, milik rakyat.
"Saya tidak mengadakan perubahan besar di gedung itu. Tetapi memang saya perintahkan untuk mengatur isinya dan iklimnya sedemikian rupa sehingga benar-benar representatif sebagai Istana. Istri saya sangat teliti dalam mengaturnya," ujarnya.
Soeharto kerap menggelar acara yang terbuka sifatnya sehingga bisa dilihat banyak orang. Itu dilakukan Soeharto agar rakyat merasa dekat. Kemudian, pembelian cenderamata untuk keperluan Presiden dibeli oleh Rumah Tangga Kepresidenan yang ditunjang oleh anggaran.
Sementara untuk pemberian yang diterima dari negara sahabat, Soeharto tetapkan menjadi milik negara. Semuanya diinventarisasikan, dicatat, kecuali yang tidak bisa disimpan, seperti makanan, atau minuman.
"Barang-barang berharga, semuanya disimpan di museum khusus di Istana yang jadi tempat menyimpan cenderamata yang kita terima dan menggambarkan keseluruhan dari daerah mana dan negara mana," ujarnya.
(Arief Setyadi )