3.Memastikan Kesetiaan AD, AU, AL dan Polisi
Sebelum bergerak, Soeharto lebih dulu memastikan kesetiaan dan ketidaksetiaan pasukan di lingkungan Angkatan Darat, Angkatan Udara, Angkatan Laut dan Polisi, yakni terutama pasukan di Jakarta.
Sebisa mungkin Soeharto melakukan koordinasi dengan para perwira di masing-masing matra. Setelah itu ia memerintahkan semua pasukan yang loyal kepadanya untuk siap tempur, tapi tetap tinggal di tempat.
“Saya ingin menghindarkan pertumpahan darah antara mereka dengan tentara yang di bawa ke jalan yang sesat oleh beberapa unsur yang tidak bertanggung jawab”.
4. Memastikan Keselamatan Presiden Soekarno
Pada 1 Oktober 1965, Mayjen Soeharto sebelum menggerakkan pasukannya sempat berkomunikasi dengan Presiden Soekarno atau Bung Karno. Soeharto berusaha memastikan keselamatan Bung Karno termasuk keberadaannya.
Pada pukul 10.00 Wib, Soekarno memberitahu Soeharto kalau dirinya selamat dan berada di suatu tempat di Jakarta. Meski tidak diberitahu, Soeharto bisa menerka dengan tepat posisi Bung Karno ada di Halim Perdanakusuma.
Soeharto menyarankan Bung Karno untuk meninggalkan Halim karena pasukannya bersiap menyerang pasukan Dewan Revolusi. Bung Karno kemudian meninggalkan Halim Perdanakusuma untuk menuju Istana Bogor.