JAKARTA - Soekarno, Presiden pertama Indonesia sekaligus pahlawan yang mendedikasikan hidupnya untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ia menjalani perjalanan yang panjang hingga menjadi seorang pemimpin besar, siapakah tokoh yang membuat Soekarno terjun dalam dunia politik?
Tokoh Pendorong di Balik Perjalanan Politik Soekarno
Soekarno lahir di Surabaya pada 6 Juni 1901 dari pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai dengan nama kecilnya Kusno Sosrodihardjo. Menjalani masa kecil yang sering sakit, ia pun mengganti nama menjadi Soekarno agar dapat tumbuh dengan sehat, sesuai dengan kepercayaan Jawa.
Soekarno dikenal sebagai anak yang berprestasi dan mampu menguasai banyak bahasa. Setelah menamatkan sekolahnya di ELS pada tahun 1915, Soekarno tinggal di rumah sahabat ayahnya, Haji Oemar Said Tjokroaminoto, tokoh yang menjadi alasan pendorong Soekarno terjun ke dalam dunia politik.
Biografi Singkat Tjokroaminoto
Oemar Said Tjokroaminoto lahir pada 16 Agustus 1882 di Ponorogo, Jawa timur, merupakan anak kedua dari 12 bersaudara dari ayah yang bernama R.M Tjokroamiseno. Ia merupakan keturunan langsung Kyai Ageng Hasan Besari dari Pondok Pesantren Tegalsari Ponorogo.
Meniti karir sebagai juru tulis, Tjokroaminoto memulainya dengan menjadi juru tulis seorang Patih di Ngawi setelah ia lulus dari sekolah Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA).
Kemudian, ia pindah dan menetap di Surabaya dengan bekerja sebagai juru tulis di firma Inggris Kooy & Co. Masa inilah yang menjadi periode krusial permulaan perkembangan karir politiknya sebagai tokoh penting pergerakan anti kolonial.
Kronologi Tjokroaminoto sebagai Panutan Soekarno
Tjokroaminoto adalah seorang pemimpin pertama dari Sarekat Islam yang diangkat pada 1912 dan sangat dihormati. Bahkan, pemerintah Belanda takut kepadanya dan memberikannya julukan De Ongekroonde van Java yang artinya Raja Jawa Tanpa Mahkota.
Tak hanya itu, ia merupakan guru bagi para pemimpin besar di Indonesia dan menjadi pelopor pergerakan Indonesia. Terletak di Jalan Peneleh Gang VII Surabaya, rumah Tjokroaminoto beberapa kali dijadikan sebagai tempat menginap bagi para tokoh besar untuk menimba ilmu padanya, termasuk Soekarno.
Menjalani kehidupan di rumah Tjokroaminoto, Soekarno banyak membaca buku bacaan dan mengenal banyak tokoh penting dunia. Apabila sedang didatangi tamu penting, Soekarno seringkali mendengarkan percakapan yang didiskusikan oleh Tjokroaminoto dengan tamunya, bahkan sesekali bertanya.
Di sini pula untuk pertama kalinya Soekarno mengenal Marxisme, teori yang kemudian mempengaruhinya dalam mencetuskan Marhaenisme. Di rumah ini, para pemimpin nasional yang dulunya murid Tjokroaminoto lahir dengan beragam ideologi sehingga Soekarno menyebut rumah ini sebagai dapur nasionalisme.
Menjadikan Tokroaminoto sebagai mentor politik dan inspirasi, Soekarno bahkan memegang teguh perkataan Tokroaminoto yang berbunyi Pemimpin yang Hebat Menulis Seperti Jurnalis, Berbicara Seperti Orator.
Wafat
HOS Tjokroaminoto wafat pada 17 Desember 1934 di Yogyakarta, Indonesia di umurnya 52 tahun karena jatuh sakit. Ia pun dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Pekuncen, Yogyakarta.
Perjalanan Soekarno menuju lika-liku tak akan lengkap tanpa mengakui peran penting Tjokroaminoto, tokoh yang menjadi inspirasi dan membuat Soekarno semangat untuk terjun ke dalam dunia politik.
Melalui semangat perjuangan bersama, sosok Tjokroaminoto yang bijaksana dapat membimbing Soekarno dan memberikan landasan yang kokoh bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia.
(Arief Setyadi )