JAKARTA - Hari ini, 5 Oktober 2023 diperingati sebagai Hari Ulang Tahun Ke-78 Tentara Nasional Indonesia (TNI). Banyak sudah perjuangan para prajurit dalam mempertahankan kedaulatan NKRI.
Mereka rela mengorbankan seluruh jiwa raganya demi Ibu Pertiwi. Seperti halnya yang dilakukan Letnan Jenderal (Letjen) TNI (Purn) Soegito.
Melansir Sindonews, ia merupakan perwira tinggi (Pati) TNI Angkatan Darat (AD) yang cukup dikenal dan disegani. Khususnya di Korps Baret Merah Kopassus. Sejumlah jabatan strategis di tubuh TNI yang diduduki lulusan Akademi Militer (Akmil) 1961.
Ia juga sudah malang melintang dalam pertempuran. Di antaranya, Operasi Seroja di Timor Timur (Timtim) yang sekarang bernama Timor Leste. Dalam Operasi Seroja, Soegito memimpin langsung penerjunan prajurit Kopassus di Kota Dili pada 7 Desember 1975.
Bersama pasukannya, mantan Panglima Komando Operasi Keamanan (Pangkoopskam) Timor Timur ini terjun dalam serbuan ke Kota Dili dan terlibat langsung pertempuran dengan kelompok bersenjata Fretilin hingga kota tersebut berhasil dikuasai penuh.
Menukil buku biografi berjudul “Letjen (Purn) Soegito, Bakti Seorang Prajurit Stoottroepen” keberanian serdadu kelahiran Yogyakarta 15 Februari 1938 menyabung nyawa di medan operasi membuat namanya diperhitungkan dan disegani oleh musuh-musuhnya.
Suatu ketika, salah satu kelompok bersenjata yang berafiliasi ke Fretilin ingin berdamai dan tidak mau meneruskan konflik dengan ABRI kini bernama TNI. Kelompok bersenjata yang dipimpin Paolino Gamma atau lebih dikenal dengan sebutan Mauk Muruk ini memilih berdamai dan menyerahkan senjatanya ke TNI.
Namun, Mauk Muruk bersama sekitar 17 pasukannya ini bersedia turun gunung dan menyerahkan diri dengan syarat bertemu langsung pejabat tertinggi yang tak lain adalah Soegito. Pada waktu yang ditetapkan, Mauk Muruk bersama kelompoknya datang ke Markas Koopskam dengan senjata lengkap.
Situasi cukup tegang karena kelompok bersenjata ini tidak mau senjatanya dilucuti. Sebelum datang dan membaca situasi yang tidak kondusif, Soegito yang dikemudian hari menjabat sebagai Pangdam Jaya ini memberikan satu pesan penting kepada staf pribadinya Sertu Pardi.
"Kalau terjadi apa-apa, kamu hamburkan tembakan ke tempat duduk saya," perintah Soegito kepada Sertu Pardi, dikutip.
Sertu Pardi yang mendapat perintah tersebut merasa bingung, lalu bertanya, "Bagaimana kalau Bapak kena?" Sekali lagi ditegaskan Soegito, "Tidak peduli, tembak, habiskan saja."
Apa yang dikhawatirkan Soegito nyaris terjadi, beruntung Tuhan YME masih menyelamatkan nyawanya. Usai pertemuan Mauk Muruk dan Soegito, prajurit TNI kemudian melakukan pemeriksaan terhadap semua senjata yang telah diserahkan kelompok pemberontak.
Pada salah satu senjata ditemukan masih ada peluru siap tembak di dalam kamar senjata (bagian belakang laras). Dalam pertemuan itu, Soegito meminta kepada Mauk Muruk untuk mengajak kelompok-kelompok bersenjata lainnya untuk turun gunung dan menyerahkan senjatanya.
Upaya yang dilakukan Soegitu cukup berhasil. Beberapa tahun kemudian, Soegito mendapat informasi bahwa Mauk Muruk yang memiliki pendidikan cukup tinggi dan bisa berbahasa Inggris dan Indonesia itu memilih pindah ke Lisabon.
"Mungkin dia takut dihabisi teman-temannya yang tidak menyerah atau mungkin ia konflik dengan Xanana," kata Soegito.
Keberanian Soegito di palagan pertempuran diakui Prabowo Subianto yang kini menjabat Menteri Pertahanan (Menhan).
Prabowo dalam buku biografinya berjudul “Kepemimpinan Militer: Catatan dari Pengalaman Letnan Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto”. Soegito di mata Prabowo merupakan sosok pemimpin yang selalu berada di tengah-tengah pasukannya ketika merebut Kota Dili.
”Pak Soegito selalu berpesan tentara itu harus siap mati. Tentara harus siap perang. Dalam perang itu tidak ada perbedaan antara prajurit Tamtama yang paling rendah pangkatnya, atau komandan yang paling tinggi pangkatnya. Di kesatuan semua menghadapi risiko yang sama. Selain itu juga pemimpin itu harus berada di tengah-tengah anak buah. Itulah yang dilakukan Pak Soegito,” ujar Prabowo.
Kala itu, Prabowo baru saja lulus pendidikan Komando dan ditempatkan di Grup 1 Para Komando. Saat itu, Komandan Grup (Dangrup) 1 adalah Letnan Kolonel (Letkol) Soegito.
(Arief Setyadi )