Lantas bagaimana awalnya gedung tersebut menjadi Museum Sumpah Pemuda? Saat itu di awal 1900-an, mulai muncul sejumlah perguruan-perguruan tinggi di Jakarta dan Sie Kong Liong, memilih menjadikan rumahnya itu jadi kos-kosan.
Banyak pelajar-pelajar dari daerah yang datang ke Jakarta, karena saat itu perguruan tinggi cuma ada di Jakarta. Rumah ini kemudian dijadikan rumah kos mulai 1908.
BACA JUGA:
Termasuk jadi tempat Kongres Pemuda II di hari terakhir. Hari di mana dicetuskannya Sumpah Pemuda dan dimainkannya lagu ‘Indonesia Raya’ untuk kali pertama. Dipilih di sini, karena dulu tempat ini juga dijadikan Indonesische Clubgebouw (Gedung Pertemuan Indonesia).
Sejumlah tokoh pergerakan nasional yang pernah ‘ngekos’ di gedung itu adalah M Yamin, AK Gani Setiawan, hingga Amir Sjarifoeddin. Tapi mulai 1934, gedung bergaya Eropa ini tidak lagi jadi tempat kos.
Gedung tersebut sempat menjadi toko bunga, dijadikan hotel, sampai pada 1955 jadi kantor bea cukai pemerintah. Baru pada 1965, mulai ada keinginan para tokoh nasional menjadikan ini museum. Tapi baru 1974 diresmikan.
(Nanda Aria)