Kisah Pahlawan Revolusi Indonesia Berdarah Batak yang Jadi Korban Ganasnya PKI

Destriana Indria Pamungkas, Jurnalis
Jum'at 24 November 2023 13:54 WIB
Ilustrasi untuk kisah Pahlawan Revolusi Indonesia berdarah Batak (Foto: Istimewa)
Share :

JAKARTA- Inilah kisah Pahlawan Revolusi Indonesia berdarah Batak yang jadi korban ganasnya PKI dan tersohor hingga kini.

 BACA JUGA:

Karena bangsa Indonesia mengenal terdapat Pahlawan Revolusi Indonesia berdarah Batak yang jadi korban kebiadaban PKI. Masa tahun 1965 menjadi tahun berdarah yang menandai babak kelam bagi bangsa Indonesia.

Tepatnya pada 30 September 1965, tragedi yang diduga kuat didalangi oleh PKI ini menewaskan enam jenderal dan satu perwira Tentara Nasional Indonesia (TNI). Ketujuh jasad kemudian ditemukan di dalam Lubang Buaya pada 3 Oktober 1965 dan nama mereka pun diabadikan sebagai Pahlawan Revolusi.

Dilansir dari berbagai sumber, Jumat (24/11/2023), salah satu di antara Pahlawan Revolusi Indonesia tersebut ada yang berdarah Batak. Dialah Mayor Jenderal TNI (Purn) Donald Isaac Pandjaitan atau D.I Panjaitan.

D.I Panjaitan merupakan sosok yang lahir di Desa Sitorang, Balige, Tapanuli pada 19 Juni 1925. Ia merupakan putra dari pasangan Herman Pandjaitan dan Dina Pohan.

Meski lahir dari keluarga sederhana tidak menghambat Panjaitan menjadi seorang anak yang cerdas. Di bangku sekolah dasar, DI Panjaitan dipercaya untuk menjadi pembantu Kepala Sekolah G De Jong.

Setelah itu dirinya melanjutkan pendidikan ke jenjang sekolah setingkat SMP di Meer MULO tanpa tes karena nilainya di HIS cukup menonjol. Setelah lulus dari MULO, Panjaitan harus putus sekolah karena ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan.

Akhirnya, ia pun hijrah ke Riau untuk bekerja di perusahaan kayu milik Jepang. Tidak membutuhkan waktu lama, saat Jepang membuka pelatihan militer Gyugun, Panjaitan pun turut bergabung.

Awalnya ia ditempatkan di Pekanbaru. Namun, setelah Indonesia merdeka, pasukan Gyugun pun bubar dan ia pun mengumpulkan anggotanya lagi untuk membentuk organisasi Pemuda Republik Indonesia (PRI) hingga berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Karirnya dalam dunia militer bisa dibilang cukup cepat. DI Panjaitan bahkan sempat menjadi komandan Batalyon I Resimen IV di Pekanbaru dengan pangkat Mayor. Puncak karirnya adalah menjadi Asisten IV Menteri atau Panglima Angkatan Darat (Menpangad) dengan pangkat Brigadir Jenderal.

Nahas, karir DI Panjaitan harus direnggut karena kematian tragis di tangan simpatisan PKI. Dikisahkan, pada 30 September 1965 dini hari atau memasuki 1 Oktober 1965, sejumlah kelompok PKI memaksa masuk ke dalam rumahnya di Jln Hasanudin, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

DI Panjaitan yang tidak memiliki pilihan lain pun akhirnya menemui kelompok tersebut dengan mengenakan seragam lengkap dan berserah diri pada Tuhan. Pada akhir hayatnya, DI Panjaitan dikabarkan ditembak mati sebelum jasadnya ditemukan di dalam Lubang Buaya bersama enam Pahlawan Revolusi lainnya.

Demikian kisah pahlawan revolusi Indonesia berdarah Batak yang jadi korban ganasnya PKI.

(Hafid Fuad)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya