Kemegahan Kesultanan Banjar Bikin Utusan Belanda Terkesima, Ada Tempat Meludah dari Emas

Qur'anul Hidayat, Jurnalis
Sabtu 24 Februari 2024 07:44 WIB
Kesultanan Banjar. (Foto: BBC)
Share :

JOHANNES Paravicini yang merupakan utusan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) ke Banjarmasin pada pertengahan abad ke 18, pernah menggambahkan kemegahan Kesultanan Banjar.

Ia mengatakan ia disambut musik merdu kala memasuki gedung kesultanan, yang digambarkannya, memiliki dinding dan lantai yang ditutup permadani keemasan.

Kesultanan di Kayu Tangi, Martapura, itu pun memiliki piring, mangkok, hingga tempat meludah dari emas.

"Selir-selir Sultan berhias emas intan yang mahal sekali, bangku indah yang tak terbanding, tempat pangeran-pangeran yang indah duduk, tempat duduk para pembesar kerajaan," ujar Paravicini, dikutip dari BBC News Indonesia.

"Banyaknya alat kerajaan, pembawa senjata-senjata kerajaan dan lambang kerajaan, semuanya itu ditata, dihias, dengan berlian yang mahal dan dihias dengan emas..."

Pengalaman Paravinici tertulis dalam buku karangan Idwar Saleh 'Banjarmasin, Selayang Pandang Mengenai Bangkitnya Kerajaan Banjarmasin Posisi, Fungsi, dan Artinya dalam Sejarah Indonesia dalam Abad 17'.

Sejak abad-ke 17, sejarawan Banjarmasin Ahmad Barjie mengatakan, Kalimantan Selatan merupakan penghasil lada yang besar, juga penghasil emas dan berlian, maka Kesultanan Banjarmasin itu sangat kaya.

Namun, kini, sisa-sisa kejayaan Kesultanan Banjarmasin tidak lagi nampak setelah perang berkepanjangan antara Belanda dan masyarakat Banjar.

Di tahun 1612, armada Belanda menyerang Kesultanan Banjar di Kuin dengan serangan meriam, ujar sejarawan Ahmad Barjie. Peristiwa itu membuat kesultanan berpindah lokasi ke Martapura lalu ke sejumlah lokasi lainnya hingga dibubarkan sepihak oleh Belanda di tahun 1860.

Konflik itu pun meruncing menjadi perang di tahun 1859-1906 (yang menurut versi Belanda hanya berlangsung hingga 1859-1860, saat kesultanan dibubarkan).

Peperangan berkepanjangan itu mengubah kehidupan sosial di daerah itu, ujar sejarawan Universitas Lambung Mangkurat, Mansyur.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya