Kisah Pangeran Diponegoro Dikhianati Rakyatnya saat Perang Jawa

Avirista Midaada, Jurnalis
Jum'at 26 Juli 2024 06:02 WIB
Pangeran Diponegoro (foto: dok wikipedia)
Share :

PERJUANGAN Pangeran Diponegoro memberikan perlawanan ke Belanda diwarnai pengkhianatan pejabat. Tak hanya itu kematian satu panglima perang kian memberatkan perjuangan sang pangeran dalam 15 bulan terakhir di masa Perang Jawa.

Konon di saat Pangeran Diponegoro menyusun strategi untuk melawan Belanda sambil melarikan diri dari kejarannya, warga di daerah kekuasaan Pangeran Diponegoro berbalik melawan pejabat-pejabat culas pendukung Diponegoro dan menghabisi mereka, karena begitu besar hasrat penduduk akan perdamaian. Kebijakan para komandan benteng Belanda barangkali juga ikut berpengaruh di sini.

Mereka berhasil merebut hati penduduk setempat dengan menjanjikan pemberian bajak gratis, hewan penghela, dan benih gratis, jika mereka mau pindah ke wilayah Belanda. Kebijakan Belanda dalam menurunkan pajak, mengurangi kewajiban kerja bakti, dan menaikan upah buruh harian di sekitar benteng, untuk mendorong para petani dan keluarga mereka tetap betah tinggal di dekat benteng itu.

"Alhasil di September 1820, di tahun keempat perang perlawanan terorganisasi terhadap Belanda di daerah-daerah subur pangan di Jawa tengah bagian selatan berakhir sudah," demikian dikutip dari buku "Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro : 1785 - 1825".

 

Ikatan rasa saling percaya dan kerjasama antara pasukan Pangeran Diponegoro dan penduduk desa setempat sudah rusak. Tanpa dukungan rakyat, tidak mungkin lagi Pangeran melancarkan perang gerilya dengan berhasil.

Di sisi lain ini mempengaruhi nasib keselamatan Pangeran Diponegoro. Sang pangeran mulai berada di titik nadir, pada 21 September 1829 Pangeran Ngabehi, panglima paling senior yang tersisa, bersama dua putranya, terbunuh dalam pertempuran sengit di Pegunungan Kelir yang ada di perbatasan Bagelen - Mataram.

Tak lama kemudian, pada 11 November 1829 Pangeran Diponegoro nyaris tertangkap oleh pasukan gerak cepat ke-11 yang dikomandoi oleh Mayor A. V. Michiels di Pegunungan Gowong. Diponegoro lalu memutuskan untuk masuk ke hutan-hutan di sebelah barat Bagelen dengan hanya ditemani dua punakawan atau pengiring terdekat, yakni Bantengwerang dan Roto.

 

Di tangan keduanya pulalah, semua kebutuhan sang pangeran dilayani serta turut sebagai penunjuk jalan dan penasehatnya. Konon pengembaraan ini membawa sang pangeran sampai ke Sampang di daerah Remo, di hulu Kali Cincingguling, kawasan yang jauh antara Bagelen dan Banyumas.

Konon Pangeran Diponegoro terus mengembara dalam persembunyiannya. Menembus hutan perawan lebat, bersembunyi di gua-gua, mencari bantuan dimana itu dimungkinkan di tengah hujan lebat dan angin kencang. Sang pangeran kerap mengalami kekurangan makanan, tidak punya tempat berteduh di waktu malam. 

(Awaludin)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya