Hadapi Kendala, Ambisi 'Negara Listrik' China Jadi Sorotan di Global South

Rahman Asmardika, Jurnalis
Jum'at 24 April 2026 15:00 WIB
Ilustrasi. (Foto: Unsplash)
Share :

JAKARTA — Ekspor energi bersih China ke negara-negara berkembang di Selatan (Global South) kini menghadapi tinjauan kritis terkait skala pengaruh dan efektivitas strategisnya. Di tengah penguatan posisi Beijing sebagai kekuatan energi listrik baru, sejumlah negara di Afrika, Asia Selatan, dan Amerika Latin mulai menyuarakan catatan mengenai kualitas, daya tahan, serta aspek politis yang menyertai adopsi teknologi tersebut. Dinamika ini dinilai berpotensi membentuk kembali lanskap geopolitik multipolar dengan cara yang dapat membatasi pilihan bagi negara-negara yang tengah mencari solusi energi terjangkau.

Dilansir Nepal Aaja, Jumat, (24/4/2026), strategi China untuk menjadi pemimpin energi listrik dunia didukung oleh kebijakan industri dan jangkauan global yang sistematis. Rencana Lima Tahun 2026 menetapkan target kapasitas tenaga angin dan surya sebesar 3.600 GW pada tahun 2035, dengan basis produksi di Mongolia Dalam dan Gurun Gobi sebagai pusat ekspor utama. Proyek-proyek ini dirancang tidak hanya untuk kebutuhan domestik, tetapi juga untuk menyuplai pasar internasional dengan panel surya, turbin angin, dan baterai kendaraan listrik. Melalui posisi sebagai pemasok teknologi esensial, Beijing berupaya memperkuat pengaruhnya di dalam orbit ekonomi negara-negara berkembang.

Namun, di balik narasi aksesibilitas energi, muncul tantangan operasional yang signifikan. Sejumlah laporan dari Afrika dan Asia Tenggara menunjukkan kendala teknis pada instalasi tenaga surya yang dinilai kurang adaptif terhadap kondisi iklim lokal. Integrasi ke jaringan listrik nasional juga kerap menghadapi inefisiensi, sehingga memicu biaya perbaikan dan penundaan proyek elektrifikasi. Di Amerika Latin, daya tahan turbin angin asal China menjadi bahan diskusi dibandingkan dengan alternatif teknologi lainnya. Fenomena ini dipandang sebagai refleksi dari upaya penyerapan kelebihan kapasitas industri domestik China, yang menghasilkan teknologi dengan biaya awal rendah namun berisiko memiliki beban pemeliharaan jangka panjang yang tinggi bagi negara penerima.

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya