Atasi Emisi Metana, Pramono Siapkan Tiga Skema Pengolahan Sampah di Bantargebang

Danandaya Arya putra, Jurnalis
Rabu 06 Mei 2026 21:30 WIB
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung (foto: Okezone)
Share :

JAKARTA – TPST Bantargebang di Kota Bekasi disebut sebagai penyumbang emisi gas metana terbesar kedua di dunia sepanjang 2025, berdasarkan hasil riset Emmett Institute, Fakultas Hukum University of California, Los Angeles (UCLA). Kondisi tersebut akan ditangani melalui penyiapan skema pengolahan sampah yang lebih optimal.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyampaikan bahwa pihaknya telah menyetujui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di lokasi tersebut. Proyek ini ditujukan untuk mengolah sampah menjadi energi listrik.

"Yang pertama, saya sudah menyetujui untuk segera dibangun PLTSa (pembangkit listrik tenaga sampah) di sana," ujar Pramono di Balai Kota Jakarta, Rabu (6/5/2026).

"Sehingga nanti di sana ada tiga aktivitas, yakni RDF Bantargebang, pengolahan menjadi bahan bakar (fuel), dan energi melalui PLTSa," sambungnya.

 

Menurutnya, jika skema tersebut berjalan, emisi gas metana dari TPST Bantargebang dapat ditekan. Saat ini, volume sampah di lokasi tersebut diperkirakan telah mencapai 55 juta ton.

"Kalau itu bisa dilakukan, pasti akan mengurangi banyak metana yang sudah tertimbun lama. Cadangannya sudah 55 juta ton. Ini menjadi tanggung jawab kita untuk menyelesaikannya," kata Pramono.

Di sisi lain, Pramono menyebut pengelolaan sampah dengan metode RDF telah dijalankan di Rorotan, Jakarta Timur. Saat ini, fasilitas RDF Rorotan mampu mengelola sekitar 750 ton sampah per hari.

"Saya minta Rorotan yang sekarang sudah berproduksi rata-rata 750 ton per hari, ditingkatkan secara bertahap, tetapi infrastrukturnya juga harus diperbaiki agar tidak menimbulkan dampak bau maupun gangguan pernapasan bagi warga," pungkasnya.

(Awaludin)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya