PAMEKASAN – Delapan tahun bukan waktu yang singkat bagi Syaifudin (42) dalam menjalani pengobatan gagal ginjal. Dua kali dalam seminggu, ia harus menjalani hemodialisis di sela aktivitasnya sebagai anggota kepolisian. Meski memiliki jadwal pengobatan rutin, Syaifudin tetap berusaha menjalankan tugasnya dengan baik.
Rutinitas tersebut dimulai ketika kondisi kesehatannya menurun setelah penyakit asam uratnya kambuh saat pulang bekerja. Saat itu, ia segera dibawa ke klinik terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan.
“Awalnya asam urat saya kambuh setelah pulang kerja. Saya langsung dibawa ke klinik terdekat untuk diperiksa, kata dokternya asam urat saya tidak terkontrol,” ujar Syaifudin saat ditemui di ruang Hemodialisis RSUD Dr. H. Slamet Martodirdjo, Selasa (29/9/2026).
“Setelah diperiksa, kreatinin saya sudah mencapai 25 mg/dL, jauh di atas batas normal. Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, saya didiagnosis mengalami gagal ginjal,” kata Syaifudin.
Syaifudin kemudian dirujuk ke RS Bhayangkara Surabaya untuk mendapatkan penanganan lanjutan, termasuk pembuatan akses pembuluh darah dan menjalani hemodialisis pertama. Setelah itu, ia melanjutkan perawatan rutin di RSUD Dr. H. Slamet Martodirdjo, Pamekasan.
“Setelah dari klinik saya dirujuk ke RS Bhayangkara Surabaya untuk menjalani operasi untuk membuat akses pembuluh darah (akses vaskular) dan dilanjutkan hemodialisis untuk pertama kalinya. Sekarang saya sudah rutin menjalani hemodialisis di RSUD Dr. H. Slamet Martodirdjo,” tuturnya.