BRIN Ungkap Benda Misterius di Sampit Diduga Puing Roket China ZhuQue-2E

Binti Mufarida, Jurnalis
Rabu 21 Oktober 2026 12:57 WIB
Diduga Puing Roket China ZhuQue-2E (foto: dok ist)
Share :

JAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap dugaan asal-usul benda logam berukuran besar yang ditemukan di kawasan perkebunan kelapa sawit di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Benda tersebut diduga kuat merupakan bagian dari roket ZhuQue-2E (ZQ-2E) asal China yang kembali memasuki atmosfer Bumi pada Minggu (18/10/2026).

Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa dugaan tersebut didasarkan pada analisis lintasan orbit benda antariksa yang melintasi wilayah Kalimantan pada waktu kejadian.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, warga mendengar suara gemuruh dari langit pada Minggu (18/10/2026) sekitar pukul 17.30 WIB. Keesokan paginya, pekerja perkebunan menemukan kepingan logam berukuran besar dalam kondisi terkoyak di kawasan perkebunan sawit.

Sekitar pukul 17.36 WIB, lintasan benda antariksa tersebut berada di sekitar Sampit. Waktu tersebut berdekatan dengan laporan warga yang mendengar suara gemuruh pada sore hari.

“Berdasarkan data orbit yang kami telusuri, bekas roket ZhuQue-2E melintas dari arah utara ke selatan di atas wilayah Kalimantan pada 18 Oktober 2026. Sekitar pukul 17.36 WIB, lintasannya berada di sekitar Sampit. Waktu ini sesuai dengan laporan warga yang mendengar suara gemuruh pada sore hari tersebut,” jelas Thomas dalam keterangannya, dikutip Rabu (21/10/2026).

 

Menurut Thomas, kesesuaian waktu kejadian dan lintasan orbit menjadi petunjuk penting untuk mengidentifikasi asal benda yang ditemukan warga. Hasil penelusuran juga menunjukkan bahwa lintasan tersebut merupakan lintasan orbit terakhir bekas roket sebelum memasuki kembali atmosfer Bumi.

“Data menunjukkan bahwa itu merupakan lintasan orbit terakhir bekas roket tersebut sebelum kembali memasuki atmosfer Bumi. Kesesuaian antara waktu lintasan dan laporan warga menjadi dasar kuat untuk menduga bahwa benda yang ditemukan di Sampit merupakan bagian dari sampah antariksa ZhuQue-2E,” ungkapnya.

Thomas menjelaskan, ZhuQue-2E merupakan roket peluncur satelit yang dikembangkan perusahaan antariksa komersial China, LandSpace.

Roket tersebut menggunakan bahan bakar metana cair dan oksigen cair, atau dikenal sebagai teknologi propulsi methalox. Teknologi ini menjadi salah satu pendekatan yang dikembangkan industri antariksa untuk meningkatkan efisiensi sistem peluncuran.

ZhuQue-2E memiliki dua tingkat roket dan merupakan bagian dari pengembangan keluarga roket ZhuQue-2. Roket tersebut dirancang untuk membawa satelit ke orbit rendah Bumi maupun orbit sinkron Matahari.

Berdasarkan laporan Xinhua, roket ZhuQue-2E Y4 diluncurkan dari kawasan peluncuran Dongfeng di China pada 14 Oktober 2026 dengan membawa 10 satelit. Seluruh satelit tersebut berhasil ditempatkan pada orbit yang telah ditentukan.

Keberhasilan peluncuran satelit tidak berarti seluruh bagian roket akan terus berada di antariksa. Bagian roket yang tidak lagi digunakan dapat tetap mengorbit Bumi untuk sementara waktu sebelum ketinggiannya berkurang akibat hambatan atmosfer dan akhirnya memasuki kembali atmosfer.

Dalam kasus ZhuQue-2E, badan roket yang diduga menjadi sumber serpihan di Sampit tercatat dengan nomor identifikasi NORAD 101070 dan kode internasional 2026-234L.

 

Mengapa Sampah Antariksa Bisa Jatuh ke Bumi?

Thomas menjelaskan, sampah antariksa merupakan benda buatan manusia yang berada di ruang angkasa dan tidak lagi menjalankan fungsinya. Benda tersebut dapat berupa satelit yang tidak aktif, bagian roket, maupun pecahan komponen wahana antariksa.

Ketika benda antariksa memasuki kembali atmosfer Bumi, kecepatannya yang sangat tinggi menyebabkan pemanasan ekstrem akibat interaksi dengan atmosfer. Sebagian besar material dapat terbakar, meleleh, atau terpecah menjadi bagian-bagian lebih kecil.

“Proses tersebut terkadang menghasilkan cahaya terang yang dapat terlihat dari permukaan Bumi, bahkan disertai suara dentuman atau gemuruh ketika terjadi gelombang kejut di atmosfer,” ujar Thomas.

Namun, tidak semua bagian wahana antariksa selalu habis selama proses tersebut. Material tertentu yang lebih tahan panas dapat bertahan melewati atmosfer dan mencapai permukaan Bumi.

“Fenomena inilah yang menjadi salah satu kemungkinan penjelasan terhadap ditemukannya kepingan logam berukuran besar di perkebunan sawit Sampit,” katanya.

Meski analisis orbit memberikan petunjuk kuat mengenai dugaan asal-usul benda tersebut, pemeriksaan fisik tetap penting untuk memastikan identitas komponennya. Pemeriksaan itu mencakup kecocokan bentuk, material, serta penandaan pada benda dengan informasi teknis roket.

(Awaludin)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya