Wow, Harta Karun Dinasti Ming Senilai Rp5 T

Ibnu, Koran SI · Selasa 30 Maret 2010 00:02 WIB
https: img.okezone.com content 2010 03 29 340 317355 v5G72MXeG6.jpg Mangkuk peninggalan Dinasi Ming (Foto:Ibnu)

CIREBON - Harta karun peninggalan Dinasti Ming berupa ribuan keramik jenis mangkok dan piring yang nilainya diperkirakan mencapai Rp5 triliun hasil penyitaan dari kegiatan pencarian ilegal di perairan Blanakan, Kabupaten Subang beberapa waktu lalu rencananya akan diserahkan ke Panitia Nasional Barang Muatan Kapal Tenggelam (BMKT), hari ini.  

"Harta karun yang akan diserahkan ke Panitia Nasional BMKT mencapai 2.366 item, terdiri dari mangkok dan piring yang nilainya mencapai Rp5 teriliun, dengan asumsi satu item dihargai Rp20 juta," kata Komandan Lanal (Danlanal) Cirebon, Letkol Laut (P) Deny Septiana, Senin (29/3/2010).

 

Dijelaskan, barang-barang tersebut disita dari para pencari harta karun ilegal delapan bulan lalu dan diamankan di Mako Lanal Cirebon. Pihaknya, baru mendapat kepastian jika barang-barang tersebut merupakan peninggalan Dinasti Ming setelah Kementerian Pariwisata dan Budaya melakukan penelitian.

 

"Sudah delapan bulan benda-benda bersejarah tersebut kami amankan. Dari hasil penelitian Kementerian Pariswisata dan Budaya akhirnya dipastikan benda-benda tersebut merupakan peninggalan Dinasti Ming yang tak ternilai harganya," kata Deny.

 

Pihaknya berencana menyerahkan harta karun tersebut kepada Panitia Nasional Barang Muatan Kapal Tenggelam (BMKT), Selasa (30/3/2010). Barang-barang tersebut selanjutnya akan disimpan untuk upaya pelestarian sementara sebagian lagi akan dijadikan barang bukti bagi Bareskrim Mabes Polri, terkait penyelidikan kasus pengambilan harta karun secara ilegal.

 

"Selanjutnya terserah mereka mana yang akan disimpan untuk pelestarian dan mana yang akan digunakan sebagai barang bukti," ujar Deny.

 

Menurut Deny, perairan Cirebon merupakan salah satu daerah yang diperkirakan memendam banyak harta karun. Dari 600 titik di perairan Indonesia yang diketahui memendam harta karun, 120 titik di antaranya berada di perairan Cirebon.

 

"Perairan Cirebon sebenarnya kaya akan peninggalan harta karun. Bahkan harta karun tersebut kebanyakan letaknya hanya 50 cm hingga 70 cm di bawah permukaan laut," ungkap Deny.

 

Harta peninggalan Dinasti Ming diamankan Ditpolair Jabar yang tengah berpatroli di perairan sekitar Blanakan, Subang, pada Juli 2009. Ribuan jenis harta karun tersebut dibawa oleh dua kapal layar motor (KLM) Alini Jaya dan KLS Asli yang masing-masing berbobot 3000 Gross Ton (GT). Kedua kapal tanpa awak tersebut kemudian diamankan di pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Cirebon.

 

Sebelumnya, Tim Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Cirebon sempat menyelidiki informasi penemuan Kapal Harta Karun yang karam di bawah laut di sekitar perairan Subang berdasarkan cerita nelayan mengenai adanya adanya kapal karam yang mengangkut banyak barang berharga di perairan Subang.

 

Pemberitaan di media massa tentang berita temuan harta karun tersebut membuat Lanal berkoordinasi dengan pihak keamanan di daratan sekitar perairan Subang untuk mengantisipasi munculnya nelayan dari luar daerah yang akan memburu harta karun itu.

 

"Saat itu, kami terus berusaha mengamankan lokasi, karena jika informasi beredar di nelayan, maka sangat mungkin ratusan nelayan akan mengejar harta itu dan bisa menimbulkan rebutan antar mereka," ujar Deny.

 

Perburuan harta karun di perairan Subang berawal dari penemuan koin dari tembaga oleh seorang nelayan asal Subang, bernama Wacas yang mengaku menemukan bangkai kapal karam pada 18 Agustus 2008, dan sebagai buktinya, dia berhasil mengambil delapan uang koin yang diduga berasal dari tembaga. Dari keterangan Wacas inilah kapal itu ditemukan di kedalaman antara 10 sampai 25 meter di bawah permukaan laut.

 

Ket. Komandan Pangkalan AL Cirebon, Letkol Laut (P) Deny Septiana menunjukkan sejumlah mangkuk peninggalan Dinasi Ming yang disita dari dua kapal layar motor di perairan sekitar Blanakan, Subang Juli 2009 lalu.

(ram)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini