Alumni ISI Yogyakarta Menangkan Sayembara Logo

Iman Herdiana, Okezone · Rabu 28 September 2011 15:33 WIB
https: img.okezone.com content 2011 09 28 373 508129 6fHfoWT3tS.jpg ilustrasi : okezone

BANDUNG - Alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Farid Stevy Asta (29) seperti mendapat durian runtuh. Pasalnya, dia keluar sebagai pemenang sayembara pembuatan logo PT Kereta Api Indonesia (KAI) 2011.

Sarjana jurusan Desain Grafis ISI Yogyakarta yang lulus pada 2007 silam itu berhasil menyisihkan 2.000 peserta sayembara logo PT KAI lainnya. Dalam kompetisi ini, tiap peserta boleh mengirimkan maksimal dua logo. Sehingga dapat dikatakan jika karya Farid hampir menyisihkan 4.000 logo lainnya.

"Saya hanya kirim satu logo meski kesempatannya bisa ngirim dua logo," kata Farid, di usai upacara peringatan HUT PT KAI yang ke-66 di Kantor Pusat PT KAI Bandung, Jawa Barat, Rabu (28/9/2011).

Dia mengaku, mengetahui perlombaan ini dari seorang temannya. "Ya mencoba aja. Lagipula proses pembuatannya panjang," cerita desainer lepas yang juga pelukis ini.

Farid mengungkapkan, alasannya mengikuti sayembara ini karena terdorong kecintaannya terhadap kereta api. Setiap ke Bandung atau bepergian, dia selalu menyempatkan diri memakai kereta api. "Aku pecinta kereta api," tandasnya.

Logo KAI karya Farid, berbentuk tiga bidang garis horizontal sejajar berwarna orange dan biru. Dua baris paling atas yang berwana orange ada ruang kosong yang membentuk anak panah.

Dua garis orange yang memiliki tanda panah sebagai simbol kereta yang melaju kencang menuju kemajuan. Sedangkan warna biro yang berada di paling bawah sebagai relnya.

Menurut Farid, logo terinspirasi dari logo lama KAI. Maksudnya, bahwa kemajuan PT KAI terkait dengan masa lalu makanya logo baru juga masih terkait dengan logo lama.

Saat ditanya soal hadiah yang diterimanya, yakni sebesar Rp200 juta, menurut Farid sudah dicairkan oleh PT KAI.  "Sudah cair penuh dan akan saya gunakan untuk biaya pernikahan," kelakarnya. Namun, dia kembali meralat ucapannya. "Ya akan dikasihkan ke orangtua, lalu untuk biaya pembuatan album," tambah pria lajang yang juga personel sebuah band Festival Jazz.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini