BANDUNG - Meski basis utama Institut Teknologi Bandung (ITB) adalah ilmu teknik (eksakta), namun ia punya kebanggaan di luar bidangnya. Kampus Ganeca ini memiliki Paduan Suara Mahasiswa (PSM) tertua di Indonesia.
Saat ini, PSM ITB tengah bersiap-siap merayakan dies emasnya yang ke-50. Kebetulan, waktu dies bertepatan dengan digelarnya event dua tahunannya, yaitu Festival Paduan Suara (FPS) ITB yang ke-23.
PSM dan FPS ITB merupakan sisi lain ITB yang menunjukkan bahwa ITB tidak melulu bergelut dengan teknologi. Tetapi ada unsur humaniora dan seni yang dikembangkan, khususnya seni musik. FPS ITB merupakan kompetisi paduan suara tingkat nasional terbesar di Indonesia saat ini. Tiap helatan, jumlah kategori yang dikompetisikan, jumlah peserta, hingga jumlah penontonnya selalu membeludak.
Ketua FPS 2012 Lidwina Ayu Andrarini, menyebutkan hampir semua paduan suara di Indonesia yang kini berprestasi sebelumnya merupakan juara-juara festival yang pertama kali diadakan pada 1968 itu. Paduan Suara "jebolan" FPS ITB di antaranya Paduan Suara Universitas Katholik Parahyangan (Unpar), Paragita Universitas Indonesia (UI), Paduan Suara Universitas Padjdjaran (Unpad), dan Paduan Suara Universitas Maranatha.
Karena rekam jejaknya itu, pada festival kali ini PSM ITB mengusung tema Embracing Our Heritage. Tema ini terkait semangat PSM ITB untuk mengangkat ciri khas PSM dan grup paduan suara di Indonesia. Sehingga mereka bisa menampilkan kekhasan daerahnya masing-masing.
"Dengan begitu budaya daerah di Indonesia bisa terangkat baik secara nasional maupun internasional," ungkap Lidwina, baru-baru ini.
PSM ITB didirikan seorang mahasiswa teknik kimia Bambang Bramono pada 11 Februari 1962. Saat itu, Bambang merupakan koordinator kesenian Dewan Mahasiswa ITB (DM ITB). Awalnya, pendirian PSM-ITB hanya fokus di internal kampus saja. Lalu PSM ITB makin berkembang hingga mampu pentas di event nasional hingga Internasional.
Di sejumlah festival, PSM ITB berhasil meraih berbagai prestasi. Di antaranya, PSM ITB mengikuti kompetisi paduan suara 59th Concorso Polifonico Internazionale Guido d'Arezzo di Italia pada September 2011. Di sini, PSM–ITB menjuarai kategori Festival by Choral Folk Music.
Salah seorang peserta yang ikut ke Italia, Melly Astrid menuturkan, kategori Festival by Choral Folk Music merupakan kategori berdasarkan pilihan publik.
"Di Italia kami ikut empat kategori. Kategori Folklore kita jadi juara pilihan penonton. Tim yang berangkat sebanyak 38 orang. Kompetisi internasional kami ikuti dua tahun sekali," ungkapnya.
Koordinator Bidang Hubungan Luar Negeri dan Alumni PSM ITB Brian Sihombing menuturkan, pada 2006 PSM-ITB mengikuti kompetisi The 4th World Choir Games 2006 (sebelumnya Choir Olympics) di Xiamen, China. Di kompetisi ini, PSM-ITB berhasil meraih dua medali emas untuk kategori Mixed Youth Choir (peringkat empat dunia) dan Mixed Choir (peringkat dua dunia). Juga mendapatkan medali perak untuk kategori Folklore A Cappella (peringkat 10 dunia) dan Mixed Chamber Choir (peringkat empat dunia).
"Berbagai prestasi dan pengalaman internasional pernah diraih PSM ITB. Misalnya di Jerman, China, dan Italia. Di sana PSM juga membawakan lagu tradisi Indonesia," kata Brian.
PSM-ITB pertama kali mengikuti kompetisi paduan suara internasional pada The 3rd Choir Olympics 2004 di Jerman. Di kompetisi ini PSM meraih dua medali perak.
Brian berharap, pada dies emas PSM ini paduan suara di Indonesia makin maju, khususnya bagi PSM ITB. Tema Embracing Our Heritage bertujuan membawa paduan suara Indonesia ke seluruh penjuru dunia. "Kami yang tertua di Indonesia. Terkait dies ke-50 ini, kami ingin memberi impak besar bagi Indonesia. Mahasiswa Indonesia punya semangat dan keinginan untuk berkembang. Kami ingin tularkan semangat ini," pungkasnya.
(Rifa Nadia Nurfuadah)