Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement
Tips Menulis Esai Kuliah (1)

Tulis Esai Personal, Jangan Terburu-buru & Pilih Mood

Rifa Nadia Nurfuadah , Jurnalis-Selasa, 01 Januari 2013 |16:39 WIB
 Tulis Esai Personal, Jangan Terburu-buru & Pilih <i>Mood</i>
Image: Alamy
A
A
A

JAKARTA- Kerepotan mempersiapkan berkas pendaftaran kuliah akan lebih terasa jika kita berencana melanjutkan studi di luar negeri. Selain menerjemahkan semua dokumen akademik, menyiapkan visa dan dokumen imigrasi, kita juga harus menulis satu esai personal. Esai ini menceritakan tidak hanya diri kita tetapi juga minat dan ambisi yang ingin kita raih.

Kita bisa menulis esai ini dengan pendekatan yang personal, tetapi jangan menjadikannya terlalu pribadi seperti sebuah curahan hati. Selain itu, sebaiknya kita menghindari topik-topik kontroversial, tetapi tetap menunjukkan keberanian. Gunakan esai personal ini sebagai kesempatan "memanusiakan" diri kita di hadapan dewan admisi kampus, sehingga mereka tidak melihat kita hanya sebagai tumpukan berkas. Kita harus bisa menonjolkan kecerdasan, kedinamisan, dan keunikan yang kita miliki dibandingkan pelamar lainnya.

Esai personal yang kuat adalah yang dapat mendorong keputusan panitia penerimaan di kampus dari "mungkin" menjadi "ya". Berikut ini para ahli memberikan berbagai tips yang bisa kita terapkan dalam membuat esai personal, demikian seperti dilansir Huffington Post, Selasa (1/1/2013).

Alokasikan waktu

Jay Douglas, penulis buku Make Them Want You: How to Write a Standout Personal Statement 15 Minutes at a Time berpendapat, menulis esai dalam waktu  kurang dari satu minggu adalah terlalu cepat. Kita mungkin belum memberikan kesempatan bagi ide yang muncul untuk benar-benar meresap.

"Di sisi lain, menulis hingga lebih dari satu bulan juga terlalu lama. Setelah beberapa waktu, berbagai gagasan yang kita miliki akan kehilangan energi. Jika kita menyimpan ide-ide itu untuk sementara waktu, kita mungkin akan kesulitan mendapatkan gairah yang sama ketika ide-ide itu masih segar," ujar Jay.

Pilih topik yang berarti untuk kita

Profesor Sastra Inggris di Alfred University dan pakar penerimaan mahasiswa baru di About.com Allen Grove mengingatkan agar kita menetapkan tujuan bahwa kita ingin pihak kampus mengenal kita lebih baik melalui esai tersebut.

"Pihak kampus telah melihat nilai-nilai yang kita raih. Sekarang saatnya memberi tahu mereka tentang kualitas apa yang kita miliki dan tidak dimiliki orang lain, apa yang membuat teman-teman menyukai kita, dan pengalaman apa yang mengubah kita menjadi pribadi yang sekarang," kata Allen. 

Penulis Conquering the College Admissions Essay in 10 Steps, Alan Gelb, menyarankan, pilihlah topik yang menampilkan kita sebagai pribadi yang tulus dan disenangi serta menunjukkan sisi perkembangan positif.  "Jika kita menulis, tunjukkan perkembangan dan kesadaran diri. Topik apa pun dapat ditulis menjadi sebuah esai yang baik, selama kita tahu yang kita lakukan. Cara terbaik adalah menulis pengalaman pribadi karena ini adalah kunci proses menonjolkan sisi personal kita," imbuh Alan.

Hati-hati dengan topik berisiko tinggi

Allen Grove mengimbuh, beberapa topik lebih berisiko dibandingkan topik lainnya. "Saya merekomendasikan Anda menghindari topik yang dapat membuat Anda terlihat seperti sebuah beban bagi kampus," tuturnya.

Dia memaparkan, cerita tentang perjuangan melawan kecanduan alkohol atau ditangkap oleh polisi mungkin mencerminkan proses evaluasi dan pendewasaan diri, tetapi di sisi lain cerita itu juga menunjukkan tipe orang yang akan menjadi beban bagi institusi pendidikan. Sementara itu, topik lain yang nampaknya terlihat positif bisa juga menjadi pilihan buruk. Hati-hati terhadap esai "pahlawan" yang menceritakan aksi penyelamatan yang kita lakukan terhadap teman yang cenderung merusak diri.

"Esai sejenis itu bisa jadi mengesankan egosentrisme kita," imbuh Allen.

Sedangkan esai perjalanan yang menggambarkan tempat-tempat yang sudah kita kunjungi ketimbang pemaparan tentang pribadi kita juga tidak bagus. Esai humor yang hanya berisi berbagai gurauan pun merupakan pilihan buruk.

Menulis ketika mood kita baik

Menurut Jay Douglas, jika kita merasa bosan, marah, terganggu atau meremehkan ketika sedang menulis esai, maka perasaan itu pulalah yang akan dirasakan para pembaca.

"Jika kita bersemangat untuk menceritakan kisah kita ke dunia, maka para pembaca pun akan ikut tertarik dan bersemangat juga. Kita tidak bisa mengontrol bagaimana reaksi seseorang atas tulisan kita, tetapi kita dapat mengontrol perilaku ketika mulai menulis. (bersambung)

(Rifa Nadia Nurfuadah)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement