Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Haedar Nashir & Siti Noordjannah bak KH Ahmad Dahlan-Siti Walidah

Salviah Ika Padmasari , Jurnalis-Sabtu, 08 Agustus 2015 |14:16 WIB
Haedar Nashir & Siti Noordjannah <i>bak</i> KH Ahmad Dahlan-Siti Walidah
foto: dok. Okezone
A
A
A

MAKASSAR - Nama Siti Noordjannah Djohantini (57) menyeruak sepanjang Muktamar ke-47 Muhammadiyah dan Satu Abad Aisyiyah di Makassar, Sulawesi Selatan mulai 3 sampai 7 Agustus kemarin. Segela informasi terbaru mengenai muktamar, hampir selalu menyinggung namanya. Maklum ia Ketua Umum PP Aisyiah periode 2010-2015 yang bertanggungjawang sepenuhnya atas kelancaran muktamar.

Sosok Siti Noordjannah Djohantini juga begitu melekat bagi kaum perempuan Aisyiyah. Buktinya, nama ibu dua anak kelahiran 1958 itu, berada di puncak urutan tujuh formatur yang akan memilih 13 anggota Pimpinan Aisyiyah menyusul pemilihan Ketua Umum periode 2015-2020.

Ada 1.480 suara yang dikantongi ibu sekaligus dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini di antara 1.622 suara sah dari peserta muktamar pemilik hak suara. Artinya lebih dari 50 persen pemilik suara yang memilih Siti Noordjannah Djohantini.

Pada Kamis 6 Agustus sekira pukul 22.25 Wita di Balai Prajurit M Jusuf Makassar, tujuh formatur menyepakati 13 nama anggota Pimpinan Pusat (PP) Aisyiyah. Dan hanya jeda tujuh menit, ke-13 anggota PP Aisyiyah secara aklamasi memilih Siti Noordjannah Djohantini sebagai Ketua Umum PP Aisyiah. Dengan demikian, untuk kali keduanya dia memegang tampuk kepemimpinan Aisyiyah.

Sementara itu di ujung Kota Makassar, perbatasan Kota Makassar dan Kabupaten Gowa, tepatnya di gedung Balai Sidang Universitas Muhammadiyah Makassar, lebih dulu 13 anggota PP Muhammadiyah rembuk dan memilih Haedar Nashir (57) sebagai ketua umum baru menggantikan Din Syamsuddin. Haedar Nashir tidak lain adalah suami Siti Noordjannah Djohantini.

Kepemimpinan pasangan suami istri di Muhammadiyah dan Aisyiyah mengingatkan kita pada kisah KH Ahmad Dahlan dan Siti Walidah (Nyai Ahmad Dahlan). Kh Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah pada tahun 1912. Lima tahun kemudian tepatnya 22 April 1917 resmilah organisasi perempuan bernama Aisyiyah yang digagas oleh pasangan suami istri itu dan pimpinan Muhammadiyah lainnya.

Dengan demikian, untuk kedua kalinya Muhammadiyah dan Aisyiyah dipimpin pasangan suami istri. Bisa dikatakan, Haedar Nashir dan Siti Noordjannah Djohantini adalah Kh Ahmad Dahlan-Nyai Ahmad Dahlan abad ini. Lalu apa komentar Siti Noordjannah Djohantini menyoal terpilihnya ia dan suami memimpin Aisyiyah dan Muhammadiyah?

"Sebenarnya ini takdir. Kami dari keluarga yang tidak memikirkan sedikit pun itu tapi ternyata terjadi seperti ini. Tetapi berkhidmad di Aisyiyah dan Muhammadiyah untuk berperan apa saja," kata Siti Noordjannah Djohantini.

Menurutnya, Aisyiyah dan Muhammadiyah itu punya rumah tangga masing-masing dan dipilihnya dia dan suaminya adalah amanah yang harus ditunaikan. "Saya itu dari keluarga Muhammadiyah mulai dari kakek dan orang tua," ujarnya.

Manta Ketua Umum PP Muhamadiyah dua periode, Din Syamsuddin dalam sambutannya di saat penutupan muktamar memberi restu kepada dua suami istri ini. Dalam Muhammadiyah, hal tersebut diperkenankan.

Sementara Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah Sulsel, Nurhayati Azis yang diminta pendapatnya juga mengatakan hal itu bukan masalah. "Kita punya persyerikatan, Muhammadiyah dan Aisyiyah memiliki regulasi dan kaidah masing-masing. Punya rumah tangga masing-masing. Jadi itu tidak masalah karena tentu tidak akan dikelola secara kekeluargaan dan saya percaya itu," tandas Nurhayati Azis. 

(Risna Nur Rahayu)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement