JAKARTA - Putri salah satu pahlawan revolusi, Amelia Ahmad Yani, mengaku keluarganya memiliki pandangan beragam terkait tragedi 1965 yang menewaskan ayahnya, Jenderal A Yani.
"Keluarga saya ada yang tidak bisa menerima, karena kekejamannya sangat tergambar dan terlihat," ujar Amelia usai gelar doa bersama dan tahlil di monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta Timur, Rabu (30/9/2015).
Amelia lantas mengisahkan, tokoh-tokoh seperti Dewanta Nusantara (DN) Aidit, Beny Oemarday, serta sejumlah sosok dari politbiro PKI yang sering berkunjung kerumahnya. Namun, keluarga Jenderal Ahmad Yani kaget ketika sosok yang dikenal dekat melakukan pengkhianatan.
"Mereka ada di kabinet, Aidit bahkan wakil PM, posisinya sangat tinggi, tapi dibalik itu semua, kita tidak tahu mereka berkhianat," kenangnya.
Bahkan, ia masih ingat betul ketika Jenderal Ahmad Yani dicap sebagai 'Jenderal Pentagon Berkulit Sawo Matang' oleh PKI. Sikapnya yang menguat di jajaran angkatan darat (AD), justru menguatkan tuduhan massa komunis terhadap jenderal lulusan Seskoad di Amerika Serikat itu.
"Dulu kan AD sangat kuat dan anti PKI, tapi (ayah) kami selalu dituduh proamerika dan dicap jenderal pentagon berkulit sawo matang," sambungnya.
Amelia memastikan, PKI menjadi dalang dibalik pecahnya tragedi 1965. Ketika kudeta mensyaratkan adanya senjata, mereka lantas memanfaatkan satuan Cakrabhirawa yang dipimpin Letkol Untung.
"PKI dalangnya! Kudeta tidak bisa tanpa senjata, nah yang bisa dielus waktu itu Cakrabhirawa, pimpinan Letkol Untung. Tuduhan AD yang harus tanggungjawab itu cuma mau mengalihkan, karena dugaan ada masalah internal di AD tidak bisa dibuktikan," pungkasnya.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.