Acaranya tak hanya tarian massal, Pemkab Kediri juga menggelar pameran produk unggulan UMKM, termasuk pameran benda pusaka sejarah mulai 24 hingga 28 Maret 2016.
Menurut Haris salah satu yang membedakan hari jadi kali ini dengan tahun sebelumnya adalah didatangkannya replika Prasasti Harinjing di Kompleks Simpang Lima Gumul.
Prasasti Harinjing merupakan cikal bakal penyebutan nama Kadiri pertama kali. Prasasti yang berada di Museum Nasional Jakarta itu mulanya ditemukan oleh seorang administratur kebun kopi, di perkebunan kopi Kampung Baru, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri pada 1916.
Batu setinggi 1,18 sentimeter (cm) itu bertulis angka 726 Tahun Saka atau 25 Maret 804 Masehi. Di permukaanya menorehkan catatan tentang pembebasan pajak dan iuran (tanah sima/perdikan) oleh Raja Mataram Kuno Rakai Layang Dyah Tulodhong, kepada Bagawanta Bhari atas jasanya membuat tanggul (dhawuhan) di Sungai Harinjing. Tanggul itu mampu menangkal banjir dan meningkatkan hasil pertanian.
“Prasasti replika ini pesan dari Museum Nasional,” jelas Haris.