Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Usai Erupsi Gamalama, Ternate Terancam Banjir Lahar Dingin

Narjo Usman , Jurnalis-Senin, 08 Agustus 2016 |01:31 WIB
Usai Erupsi Gamalama, Ternate Terancam Banjir Lahar Dingin
Gunung Api Gamalama (foto BNPB/Okezone)
A
A
A

TERNATE - Pascaerupsi Gunung Api Gamalama, Maluku Utara, kondisi udara di Ternate mulai membaik, namun tak membuat warga kota itu bebas dari bencana alam. Potensi bencana diperkirakan masih terjadi dari dampak erupsi Gunung Gamalama.

Kepala Sub Direktorat Pembersihan Lingkungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Johny Sumbung menuturkan, meski aktifitas erupsi abu vulkanis Gunung Gamalama kian menurun, namun potensi bencana lain bisa terjadi sewaktu-waktu.

Misalnya banjir lahar dingin berisi marerial pasir dan batu yang bisa saja melanda jika hujan lebat, karena setelah erupsi abu vulkanis beberapa hari lalu, sisa material masih ada di puncak gunung.

"Potensi banjir lahar dingin masih terjadi jika curah hujan dengan intensitas kurang lebih selama tiga jam, karena berdasarkan data dari BMKG Babullah Ternate ke depan akan terjadi hujan dan diprediksi curah hujan selama tiga jam dapat menyebabkan bajir lahar dingin menyerang pemukiman warga," jelas Jhony kepada wartawan di Ternate, Minggu (7/8/2016).

Tumpukan material berada di puncak gunung itu, dapat dilihat pada beberapa sungai seperti Sungai Tugurara. Hasil pemantaun, material hampir memenuhi sungai, itu dapat dipastikan ribuan kubik material di pucak Gunung Gamalam masih ada. Untuk itu, potensi banjir lahar dingin bisa tejadi pada saat hujan lebat.

"Kami minta pada pihak terkait, agar material di Sungai Tugurara secepatnya dikeruk, karena bisa berdampak besar pasa saat musim hujan, karena masih banyak material yang tersendat di puncak Gunung Api Gamalama," ujarnya.

Johny mengaku, Sungai Tuguraga sangat rawan terjadi banjir lahar dingin. Pasalnya, erupsi abu vulkanis atau meterial lebih banyak ke wilayah atau jalur Kali Tugurara. Begitu juga sungai lainnya yang ada di pemukiman, karena jika terjadi banjir kemudian meluap maka sungai-sungai lain akan terjadi bajir lahar dingin.

"Kita perlu antisipasi potensi bencana lahar dingin ini, untuk itu kami akan berkoordinasi dengan Balai Sungai Wilayah Maluku Utara, untuk secepatnya mengangkut material dalam sungai. Kami juga akan berkoordinasi dengan Pemerintah Pusat untuk terlibat dalam mengatasi potensi bencana ini," jelasnya.

Sementara Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Ternate, Hasim Yusuf, mengatakan ada tiga titik rawan bencana banjir lahar dingin packaerupsi Gamalama, yakni Sungai Tugurara di Kelurahan Tubo, Sungai Baliyora terletak di Kelurahan Maliaro, serta sungai di Loto dan Togafo.

"Kelurahan di sekitar tiga sungai itu harus waspada saat hujan lebat, pasalnya potensi banjir lahar dingin pada saat musim hujan akan terjadi," katanya.

(Baca juga: Letusan Gunung Gamalama Ganggu Penerbangan)

Ia mengaku belum mengetahui berapa banyak material berada di puncak Gunung Gamalama atas erupsi abu vulkanis yang terjadi pada Rabu 3 Agustus 2016, karena proses pengukuran.

Material di puncak Gunung Gamalama pada erupsi beberapa tahun lalu diperkirakan masih tersisa 30 ribu meter kubik, jika ditambah erupsi dua kali pada 2015 dan 2016, maka material semakin banyak.

"Kita lihat saja setiap sungai, jika hujan satu jam saja, sungai sudah penuh material, untuk itu dengan kondisi potensi banjir lahar di beberapa titik ini bisa terjadi sewaktu-waktu jika hujan lebat selama tiga hari," cetusnya.

 

(Salman Mardira)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement