JAKARTA - Dua warga negara Indonesia (WNI), berhasil kabur dari cengkraman kelompok teroris Abu Sayyaf. Keduanya, Mohammad Sofyan dan Ismail, ditemukan terpisah di Kota Luuk, Pulau Jolo usai disandera sejak 20 Juli lalu.
Menanggapi hal itu, mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais) TNI, Mayjen Sudrajat mengingatkan pemerintah harus berhati-hati.
"Satu, pertama kita bersyukur ada dua bisa lolos meskipun melarikan diri. itu usaha mereka. Mereka pandai cari kelengahan dan ada kesempatan. Saya kira itu baik, tetapi ini juga mempunyai dampak negatif terhadap sandra yang lain," ujar Sudrajat kepada Okezone, Jumat (19/8/2016).
(Baca: Lolos dari Abu Sayyaf, Dua WNI Cek Kesehatan di Filipina)
Dengan kaburnya dua tawanan, Sudrajat menyebut Abu Sayyaf dan kawan-kawan bisa semakin keras terhadap sandera yang lain. Bahkan, peritiwa tersebut juga bisa membuat kelompok pembajak semakin nekat.
"Abu Sayyaf nanti akan makin 'keras' kepada yang lain. Bahkan bisa dia berikan ancaman, dan tidak mustahil dia akan bertindak diluar perikemanusiaan. ini tidak kita harapkan, tetapi ini adalah logika kita," imbuhnya.
Selain itu, Sudrajat juga menyebut adanya kemungkinan jika kedua WNI itu sengaja dilepas agar Abu Sayyaf mendapatkan perhatian. Terlebih jika Abu Sayyaf memberi pesan terhadap Sofyan dan Ismail agar keduanya dijadikan alat komunikasi dengan otoritas di Indonesia.
"Kalau kamu punya tahanan, lepas kan bakal jadi catatan. Mereka makin ketat atau apakah dua ini memang dilepas sama dia dianggap lengah, biar jadi berita apa yang terjadi dan segala macam, atau mungkin dia membawa pesan tidak, kita belum invetigasi dua orang ini. Kalau bawa pesan mungkin ini jadi komunikasi," tandasnya.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.