"Kalau tradisi kami di sini, kami menyisihkan beberapa daging sapi dan kambing untuk dimakan bersama para jamaah dan orang yang ikut kurban. Sementara itu, ada 200 kupon yang kami bagikan kepada jamaah dan warga di sekitar masjid yang bukan jamaah," tuturnya pada Okezone.
Daging yang disisihkan panitia untuk dimakan bersama, kemudian diolah oleh para ibu. Kali ini, daging akan dimasak gulai. Untuk memasak daging kurban tersebut, pihak masjid memang sudah menyediakan kuali dan kayu bakar. Di samping ibu, tampak ibu-ibu sibuk mengambil peran masing-masing. Ada yang meracik bumbu, mencuci daging, lalu ada pula yang memasak nasi. "Uang untuk beli bumbu dan beras merupakan sumbangan dari jamaah," terangnya.
Setelah semuanya matang, baik itu daging sapi dan kambing gulai serta nasi, seluruh jamaah berkumpul dan menyiapkan proses makan bersama. Makan bersama ini disebut makan bajambah. Setelah nasi dan lauk dihidangkan, Guru Tarekat Naqsabandiyah mengajak jamaah berdoa sebelum menyantap hidangan.
“Makan bersama ini sebagai rasa syukur kami kepada Allah SWT yang telah memberikan hidayah pada kita dan rasa terimakasih kasih kepada orang berkurban. Orang yang berkurban diajak makan bersama. Selain itu tujuan makan bersama ini untuk menjalin silaturahmi seluruh jamaah,” terangnya.
Menurutnya, tradisi makan daging kurban bersama di Hari Raya Idul Adha tidak hanya dilakukan di Masjid Baitul Makmur, tapi masjid Naqsabandiyah lainnya di Sumatera Barat. “Ini merupakan tradisi kami untuk bersama-sama dan gotong royong. Semua jamaah Naqsabandiyah yang tersebar di Sumatera Barat ini melakukan hal yang sama,” tutupnya.
(Risna Nur Rahayu)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.