BEBERAPA waktu lalu, status keistimewaan Yogyakarta pernah digugat. Hal tersebut sontak memicu banyak kecaman karena merasa yang menggugat keistimewaan ‘Jogja’, tak tahu menahu soal sejarah besar provinsi yang memang istimewa ini.
Provinsi yang pernah jadi ibu kota kedua RI setelah Jakarta. Daerah yang pernah menyumbangkan segalanya agar pemerintahan RI tetap bisa berjalan setelah “mengungsi” dari Jakarta.
Kisahnya tak lepas dari berbagai peristiwa intimdasi, teror, hingga percobaan pembunuhan terhadap Presiden Ir Soekarno medio 1946. Dari mana lagi ancaman-ancaman itu datang kalau bukan dari Belanda yang membonceng sekutu kembali ke Indonesia.
Situasi di Jakarta dan sekitarnya pun mulai tak karuan. Tidak hanya persoalan bentrokan antara pasukan NICA (Pemerintahan Sipil Hindia Belanda) dengan pasukan republik di Jatinegara hingga Pasar Minggu, tapi juga banyaknya laskar dan gerombolan bandit yang sukar tunduk pada pemerintah.
Tahu situasi Bung Karno serta jajaran pemerintahan tak lagi aman di Jakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) IX dan Sri Paku Alam VIII menyarankan ibu kota dipindahkan sementara ke Yogya. Saran yang diterima dengan hangat oleh Presiden Soekarno.