Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

TOP FILES: Yuk Nostalgia Lagi dengan Permainan Ular Naga

Randy Wirayudha , Jurnalis-Jum'at, 28 April 2017 |08:38 WIB
TOP FILES: <i>Yuk</i> Nostalgia Lagi dengan Permainan Ular Naga
Permainan ular naga (Foto: Youtube)
A
A
A

ULAR naga panjangnya bukan kepalang. Menjalar-jalar selalu kian kemari. Umpan yang lezat itulah yang dicari. Ini dianya yang terbelakang.” Familierkah Anda dengan lirik legendaris ini?

Buat anak-anak di era 1990 ke belakang mungkin sangat teringat dengan lagu yang tentunya berasal dari satu permainan tradisional yang juga tak kalah legendaris. Ya, permainan ular naga.

Permainan yang selayaknya petak umpet dan petak jongkok karena tak butuh biaya ini, hanya butuh sekelompok anak untuk dimainkan. Biasanya akan ada dua orang yang saling menyatukan dua tangan membentuk sebuah gerbang kecil.

Nantinya, para pemain lain dan membentuk satu barisan, akan ada yang jadi kepala dan buntut ular naga dengan diramaikan anak-anak lain di tengah-tengahnya. Beriringan, satu barisan layaknya ular naga itu akan berkeliling keluar-masuk “gerbang”.

Sepanjang permainan saat keluar-masuk itulah dinyanyikan bersama lirik lagu ciptaan Saridjah Niung Bintang Soedibjo alias Ibu Soed itu. Saat lagu berakhir, anak yang berada tepat di bawah “gerbang” akan terkunci.

Nantinya, anak yang “terkunci” di gerbang itu akan disuruh memilih, mau ikut “gerbang” yang kanan atau kiri sebagai pengikut. Begitu terus sampai rangkaian ular naga itu kehabisan pemain atau ya kalau anak-anak itu dipanggil pulang orangtuanya.

Biasanya di beberapa versi di daerah di Indonesia, terdapat pula dialog bantah-bantahan antara “gerbang” dan kepala atau induk ular naga, setiap kali seorang anak ditangkap. Dialog seperti:

Induk (I) : "Mengapa anak saya ditangkap ?"

Gerbang (G) : "Karena menginjak-injak pohon jagung.. "

I : "Bukankah dia sudah kuberi (bekal) nasi ?"

G : "Nasinya sudah dihabiskan "

G2 : (menyeletuk) "Anaknya rakus, sih... "

I : "Bukankah dia membawa obor ?"

G : "Wah, obornya mati tertiup angin.. "

I : "Bukankah .... ?"

G : "..... ", dan seterusnya

Percakapan bantahan akan terus terjadi sampai ada yang menyerah memberi bantahan. Lantas untuk meyakinkan kokohnya "penjara" yang dihadapi pemain yang ditangkap, si induk biasanya menanyakan:

(Sambil menepuk/menunjuk salah satu lengan si "gerbang")

I : "Ini pintu apa ?"

G : "Pintu besi !"

I : "Yang ini ?", (menepuk tangan yang lain)

G : "Pintu api !"

I : "Ini ?" (menunjuk tangan yang lain lagi)

G : "Pintu air !",

I : "Dan ini ?" (menunjuk tangan yang terakhir)

G : "Pintu duri !"

Putus asa, yakin bahwa "penjara" tak tertembus, si induk kemudian menoleh kepada anaknya:

I : "Kau mau pilih 'bintang' atau 'bulan' ?"

A : "Bintang !"

Dan kemudian anak yang malang itu ditempatkan di belakang salah satu "gerbang", yang digelari 'bintang'. Setelah itu, permainan diulang lagi sampai semua tertangkap.

Faedah permainan ini juga tak kalah banyak dengan petak umpet atau petak jongkok. Manfaat edukatif yang ada di permainan ini seperti pengembangan kecerdasan, emosional, kerjasama, serta sosialisasi anak.

(Randy Wirayudha)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement