nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Merantau di Negeri Orang, Diaspora Indonesia Kangen Puasa di Tanah Air

Silviana Dharma, Jurnalis · Minggu 18 Juni 2017 21:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 06 16 18 1717878 merantau-di-negeri-orang-diaspora-indonesia-kangen-puasa-di-tanah-air-am8x67w6CW.jpg Pengalaman Ramadan Wino di China. (Foto: Istimewa/Wino Yourman Eusy)

MENJALANI puasa, paling enak, ya, di negara sendiri. Demikian yang dirasakan kebanyakan orang Indonesia saat merantau di negeri orang.

Seorang mahasisiwi magang di China, Mentari Puspa Ferisa, misalnya, mengaku ribet harus berpuasa di luar negeri. Apalagi jika negara yang tengah dijadikan perantauannya, kebanyakan dihuni non-Muslim. Selain karena godaannya jauh lebih banyak, dia juga sering tidak enak hati kalau ada orang yang menawarinya makan dan minum.

"Menjalani puasa di negeri orang itu rasanya ribet, karena ketika jam makan tiba, banyak yang mengajak saya makan. Pada saat seperti itu, rasanya bingung harus menjawab apa," curhatnya kepada Okezone, baru-baru ini.

Mentari (paling kanan atas) bersama teman-teman sesama Muslim di KBRI Beijing. (Foto: Istimewa/Mentari Puspa Ferisa)

Pasalnya, jika anak kedua dari empat bersaudara itu beralasan sedang diet, kesannya dia sok jaga badan. Akan tetapi, jika Mentari menjawab dengan sebenar-benarnya bahwa dirinya sedang berpuasa, maka ia pasti harus menjelaskan maksud ucapannya tersebut.

"Dan saya tak tahu harus bagaimana menjelaskannya, karena pasti bakal ribet banget," tuturnya.

Di sisi lain, imbuh Mentari, jika menolak karena tidak menyukai menunya, maka ia khawatir setelah Ramadan berlalu, teman-temannya tidak akan menawarkan lagi atau kaget saat ia memilih menu yang pernah ditolaknya.

"Rasa ribet dan sedih jadi satu deh,"ucapnya.

Hal yang kurang lebih sama dirasakan Wino Yourman Eusy. Diaspora Indonesia yang berkuliah di Negeri Tirai Bambu ini juga merasa agak segan kalau harus menjelaskan pada teman-temannya yang non-Islam tentang puasa. Selain itu, dia berujar paling kangen sama ngabuburit atau tradisi menunggu iftar.

Dalam Bahasa Sunda, ngabuburit artinya adalah menunggu sore. Kebiasaan orang Sunda ini menular ke penjuru Nusantara, sehingga semua umat Islam, biasanya anak-anak akan keluar untuk seru-seruan bareng temen sembari menunggu waktunya berbuka puasa.

"Saya kangen ngabuburit, beli makanan untuk berbuka," jawabnya singkat.

Wino (paling kanan) merayakan buka puasa bersama teman-teman di China. (Foto: Istimewa/Wino Yourman Eusy)

Seorang WNI ibu rumah tangga di Prancis yang mengikuti suaminya S-3, Saldhyna Di Amora pun merasakan sepinya beribadah puasa di negeri orang. Perempuan kelahiran Madiun ini juga menjelaskan sulitnya menjalani ibadah tarawih di Negeri Mode karena waktunya terlalu malam dan transportasi umum sudah tidak beroperasi pada jam selarut itu.

"Tentunya sangat merindukan bisa menjalani puasa di negeri sendiri. Suasana Ramadhan di sini sangat sepi, tak ada orang-orang ngabuburit sambil mencari takjil yang ramai di pinggir jalan. Tak ada adzan yang berkumandang, juga pengeras suara masjid yang ramai dengan orang bertadarus Alquran setiap malam,"tuturnya.

Di sisi lain, ketiganya sepakat bahwa waktu berpuasa di Tanah Air jauh lebih bersahabat. Sebab bulan suci seringnya jatuh pada musim panas, baik di China maupun di Prancis. Itu berarti, waktu berpuasa di sana lebih panjang. Tahun ini, umat Islam di China harus berpuasa selama 16,5 jam, sedangkan di Prancis selama 18 jam.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini