nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Polemik Perpanjangan Status Darurat Militer di Marawi hingga Disetujui Parlemen Filipina

Silviana Dharma, Jurnalis · Minggu 23 Juli 2017 14:06 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 07 23 18 1742285 polemik-perpanjangan-status-darurat-militer-di-marawi-hingga-disetujui-parlemen-filipina-A4RLGXt6eE.jpg Protes perpanjangan status darurat militer di Marawi. (Foto: AP)

MANILA – Pengambilan suara di Parlemen Filipina sudah sampai tahap ketuk palu. Mereka setuju mengabulkan usulan Presiden Rodrigo Duterte untuk memperpanjang status darurat militer di Marawi, Kepulauan Mindanao hingga akhir tahun ini.

Proses pemungutan suara itu berlangsung selama tujuh jam pada Sabtu 22 Juli. Hasilnya, 261 anggota DPR dan Senat sependapat dengan Duterte bahwa angkatan bersenjata mereka perlu waktu lebih banyak untuk memulihkan situasi di Marawi, yang tengah disusupi teroris dan ekstremis yang berafiliasi dengan ISIS.

Usulan Duterte untuk memperpanjang status darurat militer di Marawi memicu polemik. Para penentangnya mengungkapkan kekhawatiran jika permintaan itu disetujui, maka sama saja dengan membuka pintu kediktatoran di Filipina.

Senator Franklin Drilon menilai perpanjangan sampai akhir tahun terlalu lama. Sementara Senator Risa Hontiveros menjelaskan, status itu tidak memberikan kontribusi strategis terhadap operasi anti-terorisme.

Lain lain kata anggota Kongres, Edcel Lagman. Dia bilang, tidak ada landasan faktual untuk pemerintah memperpanjang status darurat militer di Marawi.

Namun Menteri Pertahanan Filipina, Delfin Lorenzana menyerukan peringatan keras. Dia meyakinkan, ada ancaman yang lebih serius pada masa mendatang jika pemerintah tidak segera bergerak.

“Kita perlu memperpanjang status darurat militer di Marawi karena kita belum menanggulangi mereka yang terinspirasi atau terpengaruh ISIS,” tegasnya, seperti dikutip dari Reuters, Minggu (23/7/2017).

Presiden Duterte mengumumkan status darurat militer di Marawi sejak 23 Mei. Ketika kelompok bersenjata Maute dan Abu Sayyaf berkoalisi menduduki kota berpenduduk Muslim terbesar di Negeri Lumbung Padi tersebut. Mereka berikrar akan mendirikan kekhalifahan ISIS di Asia dengan Marawi sebagai pusatnya.

Alhasil, militer terjun untuk bertempur membebaskan kota tersebut dari pengaruh ISIS. Pemerintah berhasil melumpuhkan dan merebut kembali beberapa wilayah di Marawi yang dikuasai Maute dalam hitungan minggu. Serangan artileri dan udara tak henti-henti berkumandang saat itu.

Pertempuran berlangsung selama dua bulan. Lebih dari 420 militan teroris, 100 tentara dan 45 warga sipil terbunuh. Militer Filipina mengatakan, beberapa dari korban meninggal akibat dieksekusi mati oleh pemberontak. Sekira 70 militan diperkirakan masih bersembunyi di dalam kota.

(Sil)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini