JAKARTA - Aksi Pasukan Pengibar Bendera atau Paskibra selalu menjadi pusat perhatian di setiap upacara peringatan Hari Kemerdekaan RI. Sebab, menjadi anggota Paskibra dianggap sebuah prestasi yang bergengsi, sekaligus membanggakan bagi para pelajar SMA.
Terlebih lagi jika mereka berhasil menjadi bagian dari anggota Paskibraka yang bertugas di Istana Negara dan di depan Presiden RI. Kegigihan mereka saat berlatih untuk bisa tampil selaras saat berbaris dan mengibarkan sang saka merah putih memang inspiratif.
Ditambah proses seleksi yang terbilang cukup panjang dan sangat ketat, pasti menyimpan banyak pelajaran, serta kisah menarik selama masa pelatihannya. Claudia Annisa atau dulunya lebih dikenal dengan Dea Imut, menyebutkan bahwa banyak sekali pelajaran atau keuntungan yang didapat selama menjadi anggota Paskibra.

“Selain fisik yang lebih kuat, aku juga merasa jadi lebih fokus dan lebih disiplin daripada sebelumnya,” tutur perempuan yang pernah menjadi bagian dari Paskibra semasa SMP dan SMA. Sama dengan Stanley Otniel Nagatan, pemuda kelahiran Bekasi, 25 Juli 2000 yang terpilih menjadi salah satu pasukan pengibar bendera pada 2016 dan berhasil menyelesaikan tugas pengibaran dan penurunan.
Proses panjang dilalui Stanley. Sebab dia harus mengikuti seleksi sejak duduk di bangku kelas X. Sejak duduk di kelas 1 sekolah menengah atas, Stanley merasa terpanggil dan percaya bahwa dirinya bisa mengabdi kepada negara dengan menjadi seorang anggota Paskibraka. Rutinitas harian yang dijalaninya pun cukup berat.
Dia harus merasakan momen latihan hingga petang, pemberian materi, dan apel malam. Meski berat latihan yang dijalaninya, ia merasakan kekeluargaan yang tinggi sesama anggota Paskibraka dari seluruh Indonesia. Kebanggaan menjadi bagian dari tim pengibar bendera di istana pastinya meninggalkan cerita yang tak terlupakan.
“Bisa mengibarkan sang saka merah putih dengan baik dan benar, pastinya menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi saya. Karena tidak semua pemuda-pemudi mau dan bisa menjadi seorang Paskibraka. Dan saya juga menyadari tanggung jawab moral yang saya tanggung untuk selanjutnya, sebagai Purna Paskibraka Indonesia,” ucap siswa SMA Bruderan Purworejo ini.

Cerita lain pun dialami Hanna Enah Supit, mahasiswi Kedokteran Gigi Universitas Trisakti. Awalnya Hanna tidak tertarik mengikuti paskibra. Namun, setelah menjalaninya, ia mendapat keseruan dan kenyamanan di dunia baris berbaris ini. Hanna yang tak sengaja ikut di paskibra, bercerita saat itu dirinya dipanggil oleh senior untuk mencoba mengikuti seleksi.
Namun, siapa sangka, Hanna lolos ke tingkat provinsi bersama 17 pasang dari Jakarta Selatan. Sebelum benar-benar memulai latihan, Hanna merasakan beratnya seleksi Paskibraka Nasional. Untuk tingkat provinsi yang dilaksanakan selama 2 hari itu saja, ia harus mengikuti tes kesenian, pantohir, baris berbaris, kesehatan, psikotes, dan ilmu pengetahuan.
Dari 200 orang, terpilih 100 orang, Hanna termasuk salah satunya. Tidak melulu soal latihan, selama menjadi anggota Paskibraka pun pasti menyimpan begitu banyak kisah menarik di dalamnya. Entah itu mendapat kesempatan dipertemukan dengan banyak teman dari berbagai daerah, kesalnya ketika diperlakukan keras oleh pelatih, terlibat urusan asmara, dan masih banyak suka duka lainnya.
Seperti yang diungkapkan Hana Putri Sharaswaty, mantan Paskibraka Provinsi DKI Jakarta tahun 2014. “Menurutku, keuntungannya adalah fisik pasti jadi lebih kuat, dan biasanya dikagumi karena pernah merasakan mengibarkan duplikat bendera pusaka di bawah inspektur upacara Presiden Jokowi,” papar Hana.
Seperti halnya Dea Annisa yang punya pengalaman latihan sambil puasa. “Pernah tuh pas SMA, jadi pasukan pengibar bendera dan lagi bulan puasa 17 Agustusnya. Wah, itu harus semangat banget dong puasa sambil latihan juga,” cerita perempuan berdarah Palembang ini. Berbeda jauh dengan cerita Dea, kisah yang dibagikan Hana Sharaswaty lebih berbau asmara.
“Teman-teman seangkatanku ada beberapa yang terjebak cinta lokasi. Aku sempat sih naksir-naksiran sama temanku juga hahaha. Namun, sekadar naksir aja, karena kita lebih fokus ke latihan daripada pdkt,” papar Hana.
(Qur'anul Hidayat)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.