Air PDAM Mampet Sampai 3 Bulan, Warga Surabaya Ngamuk

Syaiful Islam, Okezone · Kamis 16 November 2017 03:00 WIB
https: img.okezone.com content 2017 11 15 340 1814805 air-pdam-mampet-sampai-3-bulan-warga-surabaya-ngamuk-70hOAwUDXg.jpg Ilustrasi (Foto: Dok. Okezone)

SURABAYA - Ratusan warga yang ada di Jalan Jatisrono Barat, Kota Surabaya turun ke jalan, Rabu (15/11/2017). Sebab air PDAM yang biasanya mengalir ke rumah-rumah mereka, sejak tiga bulan terakhir mampet.

Akibatnya, warga yang ada di Jatisrono Barat kelimpungan. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan air setiap hari, warga harus membeli air bersih seharga Rp2.000 per jeriken. Rata-rata satu keluarga membutuhkan 6 sampai 10 jeriken perhari.

Selain air mampet, warga masih harus membayar abonemen pada PDAM setiap bulannya sekitar 40 ribu. Kondisi tersebut ibaratkan warga sudah jatuh masih tertimpa tangga. Para pelanggan PDAM yang turun ke jalan membawa ember, jerigen dan poster yang bertuliskan nada protes.

Diantaranya bertuliskan “Mana Airnya Sudah 3 Bulan Kami Tidak Keramas, Perusahaan Daerah Air Mahal, Tingkatkan Mutu dan Pelayanan terhadap Masyarakat Jatisrono”. Sebagian besar mereka yang turun ke jalan para ibu-ibu dan anak-anak.

“Sudah tiga bulan air PDAM mampet. Untuk memenuhi kebutuhan air, kami membeli air bersih pada kampung sebelah dengan harga Rp 2 ribu perjerigen. Dalam sehari saya bersama keluarga menghabiskan 6 jerigen, itupun dengan pemakaian secara irit,” terang salah satu warga setempat, Fatimah.

Menurut Fatimah, kondisi tersebut sangat membuat dirinya bersama warga yang lain sengsara. Sebab air merupakan salah satu kebutuhan hidup yang paling utama seperti untuk mandi, masak, minum dan mencuci.

“Kami berharap pada pemerintah maupun pihak PDAM segera mengambil tindakan agar warga tidak semakin terpuruk, karena untuk mendapatkan air bersih harus setiap hari membeli dan bergantung kepada kampung lain,” tandasnya.

Hal senada juga diungkapkan Ketua Forum Masyarakat Jatisrono Barat, Dedi Nasution. Ia menyatakan, air PDAM yang biasa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari tidak mengalir di 10 RT yang dihuni sekitar 1 000 kepala keluarga (KK).

“Warga sudah berinisiatif untuk melaporkan kejadian tersebut secara mandiri maupun melalui forum komunikasi kepada pihak PDAM Surabaya, namun tidak ada tanggapan sampai sekarang. Warga juga masih harus membayar abonemen tiap bulannya,” ucap Dedi.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini