Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Mochtar Ngabalin soal 'Kutu Loncat' dan Tugasnya 'Membisiki Presiden'

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Jum'at, 15 Juni 2018 |20:01 WIB
Mochtar Ngabalin soal 'Kutu Loncat' dan Tugasnya 'Membisiki Presiden'
(Foto: BBC Indonesia)
A
A
A

Anda yang pernah bergabung dengan tim sukses capres Prabowo Subianto, apakah Anda mengakui kalau isu seperti itu sengaja diembuskan atau dibesarkan untuk menyudutkan lawan politik?

Kalau dulu ada saya dan beberapa kawan-kawan, kita bisa melakukan dengan langkah-langkah dan kerja-kerja untuk menghentikan permusuhan, hentikan kebencian, hentikan menyebarkan fitrnah dan cara-cara bohong. Saya tidak tahu kalau sekarang. karena banyak anak muda yang paham tentang IT dan medsos.

Tapi saya mau bilang, bahwa cara-cara kerja ini, saya mengerti, saya tahu. Bukan berarti kami tidak tahu, bukan berarti kami tidak bisa. Kami bisa. Tapi kami orang-orang yang memiliki peradaban, punya agama, punya pengetahuan, punya sistem nilai.

Saya kira tidak boleh melakukan hal-hal yang bisa meninggalkan legacy yang buruk, meninggalkan kesan-kesan yang tidak benar, memberikan pendidikan yang buruk bagi generasi kita dalam tata cara menyampaikan aspirasi dan memberikan sokongan kepada siapa yang kita calonkan.

Cara-cara yang penuh fitnah dan kebohongan, data-data palsu, data-data tentang menyudutkan yang satu dan mengangkat yang lain, itu data-data yang penuh kebencian. Itu tidak boleh terjadi di negeri ini.

Ngabalin. Foto: BBC Indonesia

Setelah Anda dipilih sebagai staf ahli komunikasi politik di Kantor staf kepresidenan, apakah Anda menempatkan diri Anda dalam kubu oposisi yang dulu Anda dukung?

Ah, saya berkali-kali datang buka puasa dengan mereka. Saya berkali-kali duduk baik-baik dan berbicara dengan mereka. Saya bertelepon, saya bertemu mas Bowo (Prabowo Subianto)...

Apa yang Anda katakan kepada Prabowo Subianto?

'Apa kabar, mas?' 'Sehat?' 'Sehat'. 'Gimana Li?' 'Baik'. Boleh tanya (ke Prabowo Subianto), boleh interviu. Saya ketemu dalam forum-forum yang juga bermartabat. Dengan kawan-kawan semua, tidak ada masalah. Karena yang mereka pikirkan adalah masa depan bangsa dan Indonesia.

Saya berpikir tentang masa depan bangsa dan Indonesia. Mereka mempersiapkan calon presiden yang mungkin mereka anggap baik untuk kepentingan masa depan bangsa, dan saya pun mengatakan: Presiden Jokowi telah melaksanakan banyak, banyak, banyak agenda penting.

Infrastruktur itu adalah mimpi rakyat Indonesia berpuluh-puluh tahun yang baru terlaksana pada periode presiden Joko Widodo. Dan itu saya cerita pada mereka.

Usai memberikan jawaban pertanyaan ini, Ali Mochtar Ngabalin mengemukan pernyataan sebagai berikut:

Bung Heyder Affan, Anda ingat baik-baik, dan catat dengan sejujur-jujurnya. Saya datang ke istana bukan pakai surat, bukan saya datang dengan mengajukan permohonan. No way! Saya ditelpon oleh Presiden Joko Widodo.

Presiden langsung menelpon Anda?

Saya ditelpon. Saya bicara dengan Menteri Sekretaris Negara, saya diundang ke istana...

Apa yang dinyatakan Presiden dalam telpon itu?

Ya, saya diminta untuk 'tolong bantu saya Pak Ngabalin'. Kepala negara yang minta, bung Heyder! Tentu dia butuh orang mungkin untuk mengkomunikasikan, menyampaikan capaian-capaian hasil pekerjaannya kepada publik, kepada umat dan lain-lain.

Dan Anda ingat baik-baik, beliau menelpon saat puasa tahun lalu (2017). Saya beberapa kali ketemu dulu, berbicara dulu. Nanti pada tahun 1439 Hijriyah (2018 Masehi), baru saya terima. Bukan ujuk-ujuk seperti orang tidak punya apa-apa, kemudian langsung datang. Saya tidak seperti itu.

Kalau beliau-beliau mensearching siapa Ali Mochtar Ngabalin, latar belakangnya, keluarganya, semuanya. Saya pun juga meminta pertolongan kepada Allah, berdiskusi dengan teman-teman di Badan Koordinasi Mubalig seluruh Indonesia, dengan keluarga, dengan sahabat, dengan semua.

Saya mesti bertanya. Kalau suatu waktu saya begini, 'emang ente mimpi?' Oh, enggak. Saya sudah begini, saya sudah membangun komunikasi. Siapa tahu saya sewaktu-waktu saya diminta, saya sudah bicarakan dengan antum, saya sudah bicarakan dengan antum.

Tahun lalu yang menelpon Anda, juga Presiden Joko Widodo secara langsung?

Ya, beliau telepon saya.

Dan mengapa Anda membutuhkan sekitar satu tahun untuk mengiyakan permintaan presiden?

Sebagai orang beragama, sebagai orang Islam, sebagai orang beriman, saya harus meminta petunjuk dari Allah. Saya harus beristiharah. Saya harus berkomunikasi dengan banyak orang yang saya rasa dekat. Dengan komunitas yang saya pimpin, badan koordinasi mubalig seluruh Indonesia. Tiga kali mereka memutuskan 'pergilah wahai saudaraku'.

Tentu Anda berkomunikasi dengan Partai Golkar juga?

Saya bicara dengan Partai Golkar. Saya bicara dengan pimpinan partai Golkar. Saya ngomong dengan pak Novanto (eks Ketum Partai Golkar, kini narapidana kasus korupsi e-KTP). Presiden meminta pandangan Pak Novanto, Presiden meminta keterangan Sekjen partai Golkar (waktu itu) Idrus Marham.

Bukan ujuk-ujuk. Bukan seperti orang yang kaget dengan mimpi dengan sebuah kekuasaan, kemudian datang.

Di depan bapak Presiden, saya bilang: 'Nyawa saya pertaruhkan kepada bapak sepanjang kebenaran dan kejujuran yang bapak laksanakan'. Anda boleh tanya, boleh interviu beliau, tentang pernyataan saya tersebut.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement