PALU - Seorang warga bernama Irsan (43) menyaksikan langsung proses likuefaksi atau fenomena hilangnya kekuatan lapisan tanah akibat beban getaran gempa yang menenggelamkan Kampung Petobo, Palu, Sulawesi Tengah.
Jelang Magrib, Irsan mendengar suara orang-orang minta tolong. Hanya saja dirinya saat itu tak bisa berbuat apa-apa lantaran takut ikut tenggelam bersama tanah yang berubang menyerupai lumpur.
Kondisi Pasca-Likuefaksi di Petobo, Palu, Sulteng (foto: Herman A/Okezone)
"Saat itu sudah gempa kami semua lari keluar rumah. Lalu saya mau cari sepupu saya yang di dalam situ (Petobo). Tetapi sudah gelap dan banyak lumpur," kata Irsan kepada Okezone sembari menunjuk sebuah rumah di tengah kumpulan lumpur yang kering, Sabtu (12/10/2018).
Warga Dusun 1 Empanau, Kecamatan Sigi, Kabupaten Sigi ini menjelaskan, kampung Petobo berbatasan dengan Kota Palu. Irsan menceritakan bisa masuk ke Petobo melalui Desa Empanau, Sigi.
(Baca Juga: Kisah Warga Petobo Selamat dari Likuefaksi: Piring-Piring Utuh, Laptop Bisa Menyala)
Usai lumpur menenggelamkan kampung Petobo, Irsan melihat para warga yang selamat berdiam diri di depan rumah masing-masing sambil memasang tenda. Alasannya karena lampu sudah padam dan menunggu tim SAR datang.
"Kita masih bertahan di depan rumah. Kita tidak tahu mau ke mana sampai bantuan datang," tutur dia.
Kondisi Pasca-Likuefaksi di Petobo, Palu, Sulteng (foto: Herman A/Okezone)
Ketika gempa, Irsan mengaku, sempat keluar rumah. Saat itu dia melihat tanah yang berubah jadi lumpur sudah seperti ombak laut yang menggulung rumah-rumah warga di Kampung Petobo.
"Begitu gempa bergemuruh seperti ombak di laut. Kita terpaksa menyelamatkan diri dulu. Kita lihat tanah seperti ombak. Saya punya keluarga belum ditemukan tertimbun di sini," lanjut Irsan.
Setelah ke esokan harinya, lanjut Isran, barulah tim SAR berdatangan. Warga yang selamat kemudian diminta untuk meninggalkan rumah mereka. Isran bersama istri dan anaknya pun memilih mengungsi ke kampung yang lebih aman.
"Baru begitu ada tim SAR masuk ke Petobo. Kita yang di luar kampung di suruh mengungsi di Desa Loru yang ada lapangan luas," ungkap Irsan.
Akan tetapi selama dipengungsian Irsan merasa kesulitan air bersih. Dia hanya bertahan beberapa hari di pengungsian, karena suasana pada malam hari gelap gulita. "Di pengungsian kita dapat bantuan beras dan mie. Kita pulang karena utamanya kita air kebersihan. Pertimbangan air jadi kita pulang ke rumah karena soal air bersih. Dan saya punya dua anak satu masih kecil," urainya.
Kondisi Pasca-Likuefaksi di Petobo, Palu, Sulteng (foto: Herman A/Okezone)
Meski rumah yang ditinggali Irsan tak rusak, rasa trauma akan terjangan gempa dan likuefaksi di Petobo tetap membayanginya. Apalagi, banyak yang berduka akibat musibah gempa, tsunami dan likuefaksi di Sulteng.
"Ya namanya kejadian seperti ini masih adalah rasa trauma begitu. Masih ada perasaan takut. Tapi alhamdulillah anak dan istri saya selamat semua," ujarnya.