Kesaksian Warga saat Petobo-Balaroa 'Ditelan' Lumpur: Tanah Bergerak bak Ombak Bergemuruh

Herman Amiruddin, Okezone · Sabtu 13 Oktober 2018 12:05 WIB
https: img.okezone.com content 2018 10 12 340 1963339 kesaksian-warga-saat-petobo-balaroa-ditelan-lumpur-tanah-bergerak-bak-ombak-bergemuruh-QKaYClet0g.jpg Kondisi Pasca-Likuefaksi di Petobo, Palu, Sulteng (foto: Herman A/Okezone)

PALU - Seorang warga bernama Irsan (43) menyaksikan langsung proses likuefaksi atau fenomena hilangnya kekuatan lapisan tanah akibat beban getaran gempa yang menenggelamkan Kampung Petobo, Palu, Sulawesi Tengah.

Jelang Magrib, Irsan mendengar suara orang-orang minta tolong. Hanya saja dirinya saat itu tak bisa berbuat apa-apa lantaran takut ikut tenggelam bersama tanah yang berubang menyerupai lumpur.

Kondisi Pasca-Likuefaksi di Petobo, Palu, Sulteng (foto: Herman A/Okezone)	Kondisi Pasca-Likuefaksi di Petobo, Palu, Sulteng (foto: Herman A/Okezone) 

"Saat itu sudah gempa kami semua lari keluar rumah. Lalu saya mau cari sepupu saya yang di dalam situ (Petobo). Tetapi sudah gelap dan banyak lumpur," kata Irsan kepada Okezone sembari menunjuk sebuah rumah di tengah kumpulan lumpur yang kering, Sabtu (12/10/2018).

Warga Dusun 1 Empanau, Kecamatan Sigi, Kabupaten Sigi ini menjelaskan, kampung Petobo berbatasan dengan Kota Palu. Irsan menceritakan bisa masuk ke Petobo melalui Desa Empanau, Sigi.

(Baca Juga: Kisah Warga Petobo Selamat dari Likuefaksi: Piring-Piring Utuh, Laptop Bisa Menyala) 

Usai lumpur menenggelamkan kampung Petobo, Irsan melihat para warga yang selamat berdiam diri di depan rumah masing-masing sambil memasang tenda. Alasannya karena lampu sudah padam dan menunggu tim SAR datang.

"Kita masih bertahan di depan rumah. Kita tidak tahu mau ke mana sampai bantuan datang," tutur dia.

Kondisi Pasca-Likuefaksi di Petobo, Palu, Sulteng (foto: Herman A/Okezone)	Kondisi Pasca-Likuefaksi di Petobo, Palu, Sulteng (foto: Herman A/Okezone) 

Ketika gempa, Irsan mengaku, sempat keluar rumah. Saat itu dia melihat tanah yang berubah jadi lumpur sudah seperti ombak laut yang menggulung rumah-rumah warga di Kampung Petobo.

"Begitu gempa bergemuruh seperti ombak di laut. Kita terpaksa menyelamatkan diri dulu. Kita lihat tanah seperti ombak. Saya punya keluarga belum ditemukan tertimbun di sini," lanjut Irsan.

Setelah ke esokan harinya, lanjut Isran, barulah tim SAR berdatangan. Warga yang selamat kemudian diminta untuk meninggalkan rumah mereka. Isran bersama istri dan anaknya pun memilih mengungsi ke kampung yang lebih aman.

"Baru begitu ada tim SAR masuk ke Petobo. Kita yang di luar kampung di suruh mengungsi di Desa Loru yang ada lapangan luas," ungkap Irsan.

Akan tetapi selama dipengungsian Irsan merasa kesulitan air bersih. Dia hanya bertahan beberapa hari di pengungsian, karena suasana pada malam hari gelap gulita. "Di pengungsian kita dapat bantuan beras dan mie. Kita pulang karena utamanya kita air kebersihan. Pertimbangan air jadi kita pulang ke rumah karena soal air bersih. Dan saya punya dua anak satu masih kecil," urainya.

Kondisi Pasca-Likuefaksi di Petobo, Palu, Sulteng (foto: Herman A/Okezone) Kondisi Pasca-Likuefaksi di Petobo, Palu, Sulteng (foto: Herman A/Okezone) 

Meski rumah yang ditinggali Irsan tak rusak, rasa trauma akan terjangan gempa dan likuefaksi di Petobo tetap membayanginya. Apalagi, banyak yang berduka akibat musibah gempa, tsunami dan likuefaksi di Sulteng.

"Ya namanya kejadian seperti ini masih adalah rasa trauma begitu. Masih ada perasaan takut. Tapi alhamdulillah anak dan istri saya selamat semua," ujarnya.

Pengalaman serupa juga turut dirasakan oleh Muhammad Abbas dan istrinya Siti Muthmainnah saat ditemui di Jalan Manggis, Perumnas Balaroa, Palu.

Abbas menuturkan, tanah yang berubah menjadi lumpur bergerak cepat meluluhlantakkan Perumnas Balaroa. Menurut dia, luas area di Balaroa yang terkena likuefaksi sekira 40 hektare dan dihuni 400 kepala keluarga. Namun, hanya sedikit yang selamat.

Kondisi Pasca-Likuefaksi di Balaroa, Palu, Sulteng (foto: Herman A/Okezone)	Kondisi Pasca-Likuefaksi di Balaroa, Palu, Sulteng (foto: Herman A/Okezone)  

Ditambahkan Abbas, rumah-rumah di belakang rumahnya berpindah tempat, tertimbun tanah. Dia menjelaskan, dulu lokasi likuefaksi di Balaroa bekas rawa yang ditimbun.

"Saya lihat mayat ditarik sama Basarnas. Karena banyak yang tertimbun air," kata Istri Abbas

Banyaknya warga yang menggunakan sumur bor, kata Abbas, membuat tanah menyemburkan air saat fenomena likuefaksi terjadi. "Jadi kayak kolam banyak air apalagi di situ bekas rawa. Jadi ketemu jadi kaya kolam. Getarannya kuat," kata Abbas menimpali istrinya.

(Baca Juga: Kisah Rahman, Menanti Anak dan Cucunya yang Hilang di Pantai Talise Palu)

Sama seperti di Petobo, kejadian likuefaksi di Balaroa juga terjadi menjelang Salat Magrib. Bahkan, adik Abbas bernama Riswan terluka saat perjalanan menuju tempat salat. "Sangat keras getarannya, saya lihat lumpur naik. Ada yang tidak jadi salat. Adik saya mau pergi salat dia buru-buru buka pintu, sehingga tangannya luka tersangkut di pintu. Kita juga sempat terlempar- lempar," ungkapnya.

Kondisi Pasca-Likuefaksi di Balaroa, Palu, Sulteng (foto: Herman A/Okezone)	Kondisi Pasca-Likuefaksi di Balaroa, Palu, Sulteng (foto: Herman A/Okezone)  

"Belum sempat pakai baju muslim lalu langsung terjadi gempa. Tapi saat gempa dia belum lari. Nanti dia lari saat gempa sudah kencang," lanjutnya.

Setelah keluar rumah, barulah Riswan lari ke jalan. Lalu Abbas memeluk pohon di luar rumah. "Saya peluk pohon. Karena mau runtuh kita dipanggil turun. Kita turun lari ke belakang. Tetapi bapak tetap bertahan di pohon. Tapi pohon berjalan sendiri," katanya

"Anehnya itu pohon tetap berdiri. Sempat lepas itu pohon," tambah Abbas.

Infografis bencana gempa tsunami Indonesia (Foto: Okezone) 

Sementara Riswan, kata Abbas, masih sempat merekam kejadian itu lewat HP-nya. Sehingga video itu viral di Facebook.

"Ade ku langsung merekam video dan menolong seorang nenek yang ada di atap depan rumah. Jadi nenek itu refleks saja melompat. Pucuk rumahnya sudah sama tinggi dengan aspal," imbuhnya.

Siti Muthmainnah manambahkan, setelah viral video adik iparnya itu disiarkan melalui televisi. "Nah video adek ku itu masuk di TV. Dan banyak yang lihat. Bahkan, keluarga nenek yang di Kabupaten Luwuk tahu bahwa rumahnya hancur. Itu gara-gara video adek ku," ungkap Siti.

Setelah semuanya lolos dari gempa. Mereka semua mengungsi ke tempat aman. Sementara Riswan bersama temannya masih berda di Baloroa. Meski dalam gelap gulita keduanya tetap menolong warga yang meminta tolong.

"Adek ku bersama temannya yang menolong. Kalau ada lagi teriakan dia pasti masuk lagi menolong. Adekku itu kalau ada yang teriak. Pasti dia masuk lari lagi tolong. Tidak ada takutnya," jelas Siti.

Dia menyebutkan, rata-rata yang meninggal adalah ibu bersama anak-anaknya. Usai kejadian, terlihat jalanan terbelah dan rumah-rumah yang runtuh. Siti juga menyaksikan beberapa orang terjepit di dalam tanah.

Kondisi Pasca-Likuefaksi di Balaroa, Palu, Sulteng (foto: Herman A/Okezone)Kondisi Pasca-Likuefaksi di Balaroa, Palu, Sulteng (foto: Herman A/Okezone) 

"Ada bapak saat itu menemukan isterinya meninggal sambil memeluk bayinya. Ia minta tolong agar jenazah anak isterinya di bawa ke pemondokan," sambung Siti.

"Iya betul. Kasihan sekali bapak itu. Tidak ada yang mau tolong. Orang punya mobil tidak mau angkut. Katanya pemali," Abbas membalas.

(Baca Juga: Cerita 18 Jam Pemulihan Navigasi Penerbangan Pasca-Gempa Sulteng) 

Akhirnya Abbas yang tak mempedulikan soal pamali, mengangkut bapak itu beserta jenazah isteri dan anaknya ke pemondokan untuk di semayamkan. Namun, ada kejadian menakutkan ketika Abbas dan istri ingin pulang. Mobilnya dirusak dan bensin diambil sekelompok orang.

"Saya cuman bilang, kenapa tidak minta. Ini kamu ambil satu gelas saja. Lebih banyak yang terbuang," kenang Abbas.

Meski mobilnya dirusak sekelompok orang, tapi Abbas tak marah karena tahu jika kondisi saat itu banyak orang panik dan butuh akan bahan bakar minyak. Pantas saja, akibat gempa seluruh fasilitas umum rusak termasuk pom bensin.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini