Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Melihat Banjar Muntigunung, "Desa Kutukan" Penghasil Pengemis Terbesar di Bali

Bramantyo , Jurnalis-Rabu, 16 Januari 2019 |04:36 WIB
Melihat Banjar Muntigunung,
Banjar Muntigunung, Desa Tianyar Barat, Bali (Foto: Bramantyo)
A
A
A

KARANGASEM - Nama Banjar Muntigunung yang terletak di Desa Tianyar Barat, Kecamatan Kubu, Karangasem, Provinsi Bali tak begitu asing di telinga masyarakat Pulau Dewata. Dari Banjar inilah, gelandangan dan pengemis yang biasa berkeliaran di pulau yang terkenal sebutan seribu pura ini berasal.

Atas dasar itulah, Kementerian Sosial (Kemensos) membangun 50 unit rumah di atas tanah milik desa adat seluas 1 hektare diperuntukan bagi para pengemis dan gelandangan. Hal itu agar mereka mau meninggalkan profesi yang ditekuni selama ini.

Dari data yang dimiliki Pemkab Karangasem, Kabupaten yang mengusung "The Spirit of Karangasem" ini, di bawah komando Bupati Karangasrm I Gusti Ayu Mas Sumantri mencatat warganya sejak 2012 hingga 2017 ada 3.378 jiwa. Saat ini, jumlah gelandangan dan pengemis (gepeng) sebanyak 285 jiwa pada 2015 sampai 2016.

Desa Pengemis

Penasaran terhadap cerita Banjar Muntigunung, hingga akhirnya dikenal sebagai Banjar penghasil "Gepeng" terbesar di Bali, Okezone ikut di rombongan dari Kemensos. Tak mudah untuk bisa ke Banjar yang berada di tengah-tengah Gunung Agung dan Gunung Batur ini. Tanjakan ekstrem mendominasi rute menuju Banjar tersebut.

(Baca Juga: Baru 4 Hari di Jakarta, 2 Pengemis Pura-Pura Buta Dapat Rp1,2 Juta)

Mobil yang membawa Okezone pun mengalami kesulitan saat menanjak. Bahkan, mesin mobil sempat mati dan membuat mobil turun lagi. Padahal, tepat di belakangnya, terdapat jurang yang cukup dalam.

Untungnya, sopir mobil yang dinaiki Okezone sangat terampil. Hingga akhirnya bisa membawa Okezone ke lokasi di mana pemukiman rehabilitasi Kemensos yang di beri nama "Desaku Menanti" didirikan.

Kepala Desa Banjar Muntigunung I Gede Agung Pasrisak Juliawan mengatakan, ada semacam keyakinan warga Banjar Muntigunung kebiasaan menjadi pengemis dan gelandangan karena sebuah kutukan dari Batari Dewi Danu.

"Desa ini awalnya makmur sama seperti desa lainnya. Tetapi saat Bali tanpa air, munculah kekhawatiran dari Dewi Danu. Kemudian, Dewi Danu pun bertapa di bukit Balengkang yang letaknya ada di belakang desa ini. Saat itulah Dewa Wisnu turun dan melepaskan panah ke arah batu dan keluarlah air," papar Gede Agung Pasrisak Juliawan pada Okezone, Selasa (15/1/2019).

(Baca Juga: Antisipasi Gelombang Kedatangan Gepeng, Petugas Perketat Penjagaan di Jalur Masuk Ibu Kota)

Desa Pengemis

Kemudian, ungkap Juliawan, Dewi Danu diperintah Dewa Wisnu untuk menjual air pada warga. Sebab, memiliki wajah yang cantik, Dewi Danu pun mengubah wujud menjadi seorang kakek buruk rupa dengan tubuh penuh belatung.

"Dan desa pertama yang dikunjungi adalah Banjar Muntigunung. Warga disini ditawari untuk membeli airnya. Bukannya membeli, namun warga justru menghina Dewi Danu yang berwujud seorang kakek. Karena marah, Dewi Danu pun mengutuk warga sini," terangnya.

Hingga akhirnya, sebagian warga Banjar Muntigunung ada memilih profesi sebagai pengemis dan gelandangan. Untuk menghapus imej penghasil pengemis dan gelandangan terbesar di Bali, Pemkab Karangasem pun terus berupaya memberikan pelatihan. Termasuk menyediakan tempat tinggal. 

Upaya itu pun berhasil. Kemensos menjadikan Banjar Muntigunung sebagai daerah keenam setelah Pasuruan, Malang, Yogya, Padang Jeneponto, dengan menggelontorkan dana Rp2,3 miliar.

Bupati Karangasem, Bali Gusti Ayu Mas Sumatri berharap, program Kemensos "Desaku Menanti" dapat memutus mata rantai kemiskinan di Kabupaten Karangasem.

"Melalui program dari Kementerian Sosial 'Desaku Menanti' bisa mampu memutus mata rantai kemiskinan, seperti yang terjadi di Banjar Muntigunung, Desa Tianyar Barat ini," ujar Bupati Mas Sumatri.

Menurut Mas Sumatri, saat ini jumlah gelandangan dan pengemis (gepeng) turun sebanyak 285 jiwa pada 2015 sampai 2016. Dan sebanyak 100 orang mendapat akses permodalan, sisanya 185 orang belum mendapatkan akses permodalan.

"Total nilai bantuan Rp500 juta. Tahun 2017 total Rp250 juta untuk 50 jiwa. Tahun 2018 kami mendapat program "Desaku Menanti" bagi 50 KK mantan gepeng. Total nilai bantuan Rp2,3 miliar lebih. Untuk lahan siap bangun kami siapkan satu hektare untuk pembangunan 50 unit rumah," terangnya.

Sementara itu, Direktur Rehabilitasi Sosial, Tuna Sosial dan Korban Perdagangan Orang Kemensos, Sonny Manalu mengatakan, ada 50 rumah dibangun untuk 50 kepala keluarga eks gelandangan dan pengemis dalam satu kompleks prumahan dengan luas mencapai satu hektare.

Sonny mengatakan, pogram ini upaya pemerintah mencabut kemiskinan dari akarnya. Ada lima daerah yang telah dibangun di antaranya di daerah Pasuruan, Malang, Yogyakarta, Padang dan Banjar Muntigunung, Kabupaten Karangasem.

(Arief Setyadi )

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement