nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kemenhub Siapkan Skema Buy the Service untuk Operasional BRT di 2020

Fahmi Firdaus , Jurnalis · Kamis 27 Juni 2019 18:32 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 06 27 1 2071752 kemenhub-siapkan-skema-buy-the-service-untuk-operasional-brt-di-2020-nCYj2Fs7Xx.jpg Foto: Okezone

JAKARTA – Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Budi Setiyadi, menyatakan bahwa dari hasil diskusi dengan beberapa pakar transportasi, muncullah skema buy the service. Buy the Service ini dibantu juga oleh beberapa pakar dari negara-negara yang sudah berpengalaman dan akan diuji coba tahun 2020 mendatang di 3 kota besar.

Menurutnya, skema buy the service ini adalah sistem pembelian layanan oleh pemerintah kepada pihak swasta untuk mengoperasikan angkutan dan merupakan bagian dari Bus Rapid Trans (BRT).

“Skema ini akan di uji coba pada tahun 2020. Berikutnya kalau sistem ini sudah jadi maka akan dianggarkan di tahun depan. Namun kami sebagai pemerintah hanya memberi layanan saja namun yang mengoperasikannya swasta. Ini tidak mengenai untung rugi tetapi bentuk bagaimana pemerintah hadir ke dalam masyarakat,” ujar Dirjen Budi.

Sementara itu muncul pula rencana untuk mengintegrasikan BRT dan LRT dengan konsep O-Bahn yaitu busway berpemandu yang merupakan bagian dari sistem transit bus cepat. O-Bahn memadukan konsep BRT dan LRT dalam satu jalur yang sama. Konsep O-Bahn yaitu busway berpemandu yang merupakan bagian dari sistem transit bus cepat dengan memadukan konsep BRT dan LRT.

Bus ini memiliki roda pandu yang berada di samping ban depan bus. Roda pandu ini menyatu dengan batang kemudi roda depan, sehingga ketika bus memasuki jalur O-Bahn, supir tak perlu lagi mengendalikan arah bus karena roda pandu akan mengarahkan bus sesuai dengan arah rel pandu serta mencegah bus terperosok ke celah yang ada di jalur. Sistem ini pertama kali diterapkan di Kota Essen, Jerman.

“Dalam pembangunan BRT yang ada di ranah kami Ditjen Hubdat, dari segi pemanfaatan dan sustainability-nya ada kota-kota yang cukup bagus dan mempunyai komitmen baik anggarannya maupun pemerintah daerahnya. Namun kami Pemerintah Pusat akan kontrol saja tidak mempermasalahkan jumlah penumpangnya, atau dalam sehari harus mengangkut berapa kali yang terpenting pemerintah menyediakan aksesibilitas dan konektivitas dalam transportasi,” ujar Dirjen Budi.

Kelebihan dari sistem transportasi O-Bahn ini yaitu:

1. Bus terpandu tersebut tetap dapat keluar dari jalur khususnya dan beroperasi seperti bus biasa. Apabila ia bergerak di jalurnya, maka sifat pengoperasiannya separti kereta rel; jadi bus terpandu dapat dianggap sebagai kombinasi bus dengan trem.

2. Lebar perkerasan jalur khusus bus terpandu yang selebar badan bus ± 200 cm, sedangkan lebar jalur lalu lintas di jalan berkisar antara 300-350 cm.

3. Sarananya (moda angkutannya) berupa bus biasa hanya diberi tambahan roda horizontal yang dapat dilipat pada saat bus beroperasi di jalan umum. Roda horizontal berfungsi sebagai pemandu pada saat bus beroperasi di jalur khusus sehingga kemudi bus tidak sifungsikan. Pengemudi hanya mengatur kecepatan kendaraan saja.

4. Selain dapat menggunakan bus gandeng, moda angkutan ini dapat menggandeng dua atau tiga bus biasa atau dua bus gandeng menjadi satu rangkaian sehingga tidak ada lagi jarak (headway); dua atau tiga bus berfungsi seperti trem. Kelebihan ini memberi keuntungan tambahan karena penyediaan jasa – pada jam sibuk – hanya perlu menambahkan bus sehingga tidak perlu menambah pengemudi.

Beberapa contoh negara yang telah menerapkan sistem O-Bahn (guided bus) antara lain :

1. Jerman: Essen (populasi 585.000 jiwa), Mannheim (populasi 311.342 jiwa)

2. Inggris: Birmingham (populasi 1.001.200 jiwa), Cambridge (populasi 123.900 jiwa)

3. Australia: Adelaide (populasi 1.200.000 jiwa)

4. Jepang: Nagoya (populasi 2.296.000 jiwa).

Menurutnya, kalau diaplikasikan di Indonesia, akan cocok untuk kota- kota yang sudah aglomerasi seperti Jogja karena sudah menyatu dengan Klaten, Magelang, juga Purworejo.

“Bangkitan penumpang dengan kota-kota seperti itu termasuk yang dari pinggiran Jogja saya rasa cocok dengan konsep O-Bahn untuk menuju pusat kegiatan seperti bandara atau tempat kerja di pusat kota,”ujarnya.

"Kalau di Jakarta bisa saja cuma karena sudah banyak jenis transportasi namun karena kita ingin memperlebar kekuatan transportasi sampai ke luar saya rasa mungkin tidak di Jakarta. Kalau melihat negara- negara yang sudah menerapkan O-Bahn kalau kita lihat ada di negara-negara yang populasinya berkisar 2-3 juta penduduk, bahkan ada juga yang di bawah 1 juta penduduk,”pungkasnya.

(fmi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini