Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Gelaran Musik Kolosal Bambu Tada di Festival Morotai Diganjar Rekor MURI

Fahmi Firdaus , Jurnalis-Rabu, 07 Agustus 2019 |15:35 WIB
Gelaran Musik Kolosal Bambu Tada di Festival Morotai Diganjar Rekor MURI
Gelaran musik bambu tada peserta terbanyak, Pemkab Morotai raih rekor MURI/dok Humas Pemkab Morotai
A
A
A

MOROTAI - Festival Morotai yang berlangsung di Daruba, ibu kota Kabupaten Pulau Morotai, berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri), karena menampilkan tarian kolosal dan musik tradisional Bambu Hitada (Tada) oleh 2.196 orang.

Ribuan pemain musik tradisional bambu tada serta pemain Juk dan vokalnya berasal dari sejumlah desa di lima kecamatan kabupaten Pulau Morotai.

ist

(Pagelaran Musik Kolosal Bambu Tada dalam rangkaian puncak acara Festival Morotai 2019 sukses Meraih ReKor MURI sebagai pagelaran Musik Bambu Tada dengan Peserta Terbanyak/ dok Humas Pemkab Morotai)

Bupati Morotai Benny Laos mengatakan, selain alam dan budayanya yang luar biasa. Morotai juga mempertahankan tradisi leluhur hingga kini. Salah satunya musik tradisional khas Morotai, Bambu Tada. Musik Bambu Tada merupakan orkestrasi musik dari instrument yang terbuat dari bambu yang mainkan secara berkelompok.

"Masing-masing orang memegang dua bambu yang berlainan nada, yaitu nada satu dan nada dua, yang lain nada tiga tinggi dan nada tiga rendah. Bambu Hitada dilengkapi pula oleh instrumen juk, suling serta para penyanyi sehingga menghasilkan sebuah nyanyian yang enak di dengar,"ujar Benny kepada awak media.

Dia menambahkan, musik Bambu Tada dikenal di Pulau Morotai dan hingga kini masih bertahan di hampir setiap desa. "Selain sebagai hiburan masyarakat, musik tradisional khas Morotai ini merupakan salah satu bentuk kebersamaan warga, mulai dari anak-anak, remaja, dan dewasa, baik pria maupun wanita," tandasnya.

Tarian kolosal dan musik tradisional Bambu Tada oleh 2.196 orang yang berhasil memikat ribuan wisatawan tersebut, tidak lepas dari sentuhan koreografer kondang Eko Supriyanto alias Eko Pece. Dia adalah orang yang di balik sukses opening Asian Games 2018. Eko Pece juga sosok dibalik layar kesuksesan Festival Teluk Jailolo 2019.

Sekadar diketahui, musik bambu tada berasal dari kebiasaan masyarakat terdahulu yang lebih banyak hidup dengan alam serta menggabungkan beberapa bahan yang mereka dapatkan dari alam.

Alat musik yang digunakan biasanya terdiri dari ruas bambu, cikir, biola, dan juk. Ruas bambu ini merupakan salah satu peralatan utama yang memiliki panjang yang berbeda dan setiap batang bambu dilubangi sesuai dengan panjang bambu. Ini dimaksud untuk menghasilkan nada yang berbeda.

(Fahmi Firdaus )

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement