nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Duterte Klaim Buang Mayat Gembong Narkoba Filipina ke Teluk Manila

Rahman Asmardika, Jurnalis · Jum'at 29 November 2019 15:33 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 11 29 18 2136010 duterte-klaim-buang-mayat-gembong-narkoba-filipina-ke-teluk-manila-PNxqWytKcJ.jpg Presiden Filipina, Rodrigo Duterte. (Foto: Reuters)

MANILA - Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengklaim bahwa ia telah membuang mayat orang-orang yang tertangkap dalam kasus narkoba di Teluk Manila dan Danau Laguna. Dia juga mengatakan akan mengabaikan hak asasi manusia dalam upaya pemberantasan narkotikanya.

Membela kampanye anti-narkobanya, Duterte kembali menegaskan bahwa masalah narkotika di Filipina telah menyebabkan "disfungsi sosial dari mayoritas warga negara". Menyikapi kritik terhadap apa yang disebut perang melawan narkoba, Duterte mengatakan bahwa dia tidak perlu mengumumkan semua langkahnya terkait dengan kampanyenya tersebut.

BACA JUGA: Wapres Filipina Dipecat dari Badan Anti-Narkoba Beberapa Pekan Setelah Diangkat

“Anda tidak tahu itu. Mungkin Anda tidak tahu berapa banyak mayat yang telah saya buang di Teluk Manila,” kata Duterte dalam sebuah pidato di Istana Malacanang, sebagaimana dilansir Philstar, Jumat (29/11/2019).

“Mengapa? Apakah kita mengumumkan bahwa raja obat bius tertentu yang saya buang ke sini - Danau Laguna? Yang lain, saya mendorongnya di jurang Provinsi Mountain.”

Duterte menekankan bahwa mereka yang terbunuh dalam perang melawan narkoba adalah mereka yang memutuskan untuk menentang penegakan hukum.

Kampanye anti-narkoba sang presiden telah menerima banyak kritik karena ribuan pembunuhan di luar proses pengadilan dan pelanggaran hak asasi manusia terkait dalam pelaksanaannya. Namun, Duterte, menolak memedulikan protes terkait hak asasi manusia, mengatakan bahwa hal itu tidak akan membantu dalam memberantas masalah narkoba di Filipina.

BACA JUGA: Duterte Ingin Filipina Kembali Berlakukan Hukuman Mati untuk Pengedar Narkoba dan Perampok

"Jangan berpikir tentang hak asasi manusia. Itu tidak akan membantu. Hak asasi manusia tidak akan ada di sana selamanya. Tetapi pemerintah dan Filipina akan bertahan lama - akan ada di sini sampai kerajaan datang," katanya.

Janji kampanye Duterte dalam pemilihan Mei 2016 adalah untuk mengakhiri masalah narkoba di Filipina dalam tiga hingga enam bulan. Tetapi, setelah lebih dari tiga tahun menjabat, presiden mengakui bahwa perdagangan narkoba ilegal di negara itu telah memburuk.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini