Dua Petugas Intelijen Korea Selatan Memperkosa Pembelot Korea Utara

Rachmat Fahzry, Okezone · Jum'at 06 Desember 2019 14:16 WIB
https: img.okezone.com content 2019 12 06 18 2138734 dua-petugas-intelijen-korea-selatan-memperkosa-pembelot-korea-utara-H1WrQCs5Av.jpg Bendera Korea Utara dan Korea Selatan. (Foto/Reuters)

Ketika aktivis itu bertanya kepada wanita Korea Utara apa pendapat mereka tentang gerakan MeToo (gerakan melawan pelecehan seksual) di Korea Selatan pada 2018, beberapa orang menjawab dengan mengatakan: "Apa gunanya?"; "Itu hanya membawa penghinaan"; atau "Mereka seharusnya menanggungnya."

"Mereka tidak terbiasa berbicara, dididik tentang kekerasan seksual, dan menuntut hak-hak mereka," kata aktivis itu. "Mereka tidak tahu bahwa ketika mereka mengalami pelecehan seksual itu adalah kejahatan dan bahwa orang dapat dimintai pertanggungjawaban atau diberi kompensasi."

Faktanya, alasan terbesar wanita Korea Utara tetap diam, kata para ahli HAM, adalah karena mencari nafkah adalah prioritas utama mereka.

"Mereka memberi tahu saya, 'Saya perlu bertahan hidup. Saya perlu makan dan saya perlu hidup. Itu yang lebih dulu,'" kata aktivis itu.

Menurut angka Korea Institute for National Unification's 2017, pendapatan rata-rata bulanan pembelot Korea Utara adalah sekitar 1,9 juta won (sekira Rp21 juta), dibandingkan dengan rata-rata untuk Korea Selatan sebesar 2,4 juta won (sekira Rp28 juta).

Tingkat pengangguran para mereka di Korea Utara 6,9% hampir dua kali lipat dari orang Korea Selatan.

Meskipun demikian, survei Pusat Data Hak Asasi Manusia Korea Utara terhadap sekitar 400 pembelot menemukan bahwa 61% telah mengirim uang kepada keluarga mereka di Korea Utara dan 58% mengatakan mereka berencana untuk terus melakukannya.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini